Acuk Andrianto Seorang Perwira TNI AD Lulusan Akademi Militer ( Akmil ) Tahun 2004 Corps Infanteri. Membaca dan Menulis untuk meningkatkan Kemampuan Literasi .

Cara Berkembang Biak Gajah di Habitat Alaminya

3 min read

Cara Berkembang Biak Gajah

Hai Sahabat Blog Militer Indonesia, Kita kembali meningkatkan kemampuan Literasi Kita Yuk ! kali ini kita fokuskan tentang bagaimana cara berkembang biang gajah ya ! Simak dan ikuti sampai tuntas ya !

Cara Berkembang Biak Gajah

Sebagai salah satu spesies mamalia, cara berkembang biak gajah rupanya cukup unik. Hewan cerdas ini melewati serangkaian fase biologis sampai cukup matang secara fisik untuk bereproduksi.

Bahkan ada beberapa poin yang mungkin membuat Anda takjub perihal organ tubuh dan aktivitas seksual gajah.

Tapi sebelum masuk ke pembahasan detail, Anda perlu mengetahui bahwa populasi gajah tengah berada di ambang kepunahan. Secara garis besar, ada 2 jenis gajah di dunia ini.

Yang pertama adalah gajah Afrika, dikategorikan sebagai spesies yang rentan oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN). Yang kedua adalah gajah Asia, spesies terancam versi lembaga yang sama.

Baca Juga:

Kampanye perlindungan gajah terus didengungkan oleh berbagai kalangan. Yang tidak kalah penting adalah regenerasi lewat perkawinan, baik yang terjadi secara alami di alam lepas maupun dengan bantuan ahli hewan di tempat-tempat penangkaran. Inilah yang akan kita pelajari bersama.

Organ Reproduksi Gajah

Kita mulai dari gajah jantan. Testis gajah berada di dekat ginjal. Ukurannya bisa mencapai panjang 1 meter dan diameter 16 cm. Gajah jantan umumnya mulai memproduksi sperma di usia 10 tahun. Umur matang minimal seekor gajah untuk bereproduksi adalah 25 tahun.

Gajah betina mempunyai klitoris yang panjangnya mencapai 40 cm. Jika mamalia lain memiliki vulva di dekat ekor, vulva gajah betina berada di antara tungkai belakang. Kelenjar susu terletak di antara tungkai depan.

Ada satu organ unik yang hanya dimiliki oleh gajah. Namanya kelenjar temporal, letaknya di sisi kiri dan kanan kepala. Kelenjar ini menghasilkan cairan khusus untuk menandakan bahwa gajah sudah siap kawin.

Mengenal Musth, Mode Siap Kawin Gajah Jantan

Masih berhubungan dengan kelenjar temporal. Rupanya gajah jantan mengeluarkan cairan dari kelenjar unik tersebut saat mengalami musth. Musth termasuk salah satu fase dalam cara berkembang biak gajah. Istilah ini hanya berlaku untuk gajah karena musth tidak dialami oleh spesies lain.

Musth adalah fase peningkatan testosteron, hormon seksual yang dihasilkan jantan dewasa. Gajah mulai mengalami musth di usia 15 tahun, tapi intensitasnya baru maksimal di usia 25. Selama musth, hormon testosteron gajah bisa meningkat sampai 60 kali lipat dari kondisi normal.

Lain halnya dengan gajah di Amboseli yang punya fase musth agak berbeda:

  • Gajah jantan tidak mengalami musth sebelum mencapai usia 24 tahun
  • 50% gajah jantan berumur 25 – 35 tahun mengalami musth
  • Semua gajah berumur di atas 35 tahun mengalami musth

Tampaknya setiap spesies gajah memiliki pola musth yang tidak sama. Periode musth juga berbeda antara gajah muda dan tua. Gajah muda biasanya mengalami musth di musim kemarau (Januari – Juni), sedangkan gajah tua lebih sering mengalami musth di musim dingin (Juli – Desember).

Ciri-ciri musth yang paling kentara adalah keluarnya cairan dari kelenjar temporal. Selama mengalami musth, gajah jantan menunjukkan perilaku yang tidak wajar:

  • Mengangkat dan mengayunkan kepala saat berjalan
  • Menggunakan taring untuk mengorek tanah
  • Membuat suara-suara gaduh
  • Membentangkan salah satu telinga

Gajah jantan yang sedang berada pada fase musth rentan berkonflik dengan pejantan lainnya. Gajah-gajah itu seolah menjadi lebih sensitif dan temperamental. Rentang periode musth berkisar antara 1 hari sampai 4 bulan.

Cara Berkembang Biak Gajah 

Gajah termasuk binatang poligini, mereka bisa kawin dengan beberapa lawan jenis pada periode yang sama. Kopulasi (senggama) paling sering terjadi di puncak musim penghujan.

Gajah betina akan mengeluarkan zat kimia bernama feromon bersama air seni dan cairan vagina untuk menandakan kesiapan kawin.

Gajah jantan akan mengambil cairan betina dengan belalai lalu mencerapnya lewat organ vomeronasal. Organ ini mampu mendeteksi kondisi fisik dan kesiapan betina untuk bereproduksi lewat aroma cairan.

Tahap ini disebut dengan respons flehmen; metode hewan untuk menganalisa sesuatu berdasarkan aromanya.

Selama betina mengalami siklus estrus (semacam musth versi betina), gajah jantan akan menyertai dan melindungi gajah betina dari pejantan lain.

Secara naluriah, gajah betina juga berusaha mendekat agar selalu berada dalam perlindungan gajah jantan yang mengawininya. Ini adalah wujud romantisme dalam cara berkembang biak gajah, menandakan bahwa hewan juga punya empati dan kasih sayang.

Menjelang kopulasi, penis gajah jantan akan melengkung ke atas dan ke bawah. Pejantan kemudian meletakkan belalainya ke punggung betina. Lama kopulasi sekitar 45 detik, tanpa jeda ejakulasi dan tanpa gerakan pinggul sama sekali.

Ada yang menarik selama proses ‘pdkt’ gajah. Apabila gajah tua mendekat, gajah betina yang masih muda akan merasa terintimidasi. Melihat respon betina muda dalam kawanan, kerabat-kerabat si betina akan mendekat untuk memberikan dukungan moral. Perilaku sosial yang tidak banyak ditunjukkan oleh binatang selain gajah.

Kelahiran dan Pertumbuhan Anak Gajah

Masa kehamilan gajah bisa mencapai 2 tahun dengan jarak antar-kelahiran antara 4 sampai 5 tahun. Bayi gajah yang baru lahir berbobot 120 kilogram dengan tinggi badan 85 cm. Pada kasus normal biasanya seekor gajah betina hanya melahirkan satu anak gajah. Tapi seperti manusia, gajah juga bisa melahirkan anak kembar.

Gajah termasuk hewan precocial, yaitu spesies hewan yang dilahirkan dengan kondisi organ tubuh lengkap dan bisa hidup mandiri meskipun masih membutuhkan bantuan dan perlindungan induknya.

Saat seekor bayi gajah lahir, seluruh anggota kawanan akan menaruh perhatian padanya. Gajah-gajah lain akan membelai anggota baru mereka dengan belalai sebagai ungkapan kasih sayang.

Saat menghadapi ancaman predator, anak gajah diletakkan di tengah dan dilindungi oleh semua gajah dewasa.

Di hari-hari awalnya, kaki gajah masih lemah. Mereka sering jatuh terjungkal saat belajar berjalan. Sensorik mengandalkan pendengaran, penciuman, dan sentuhan karena kedua matanya masih lemah. Bayi gajah belum mampu menopang belalai dengan sempurna, mereka sering tersandung belalainya sendiri.

Barulah pada minggu kedua mereka mampu mengendalikan belalainya dengan baik. Bayi gajah mulai mampu mengambil sesuatu dengan belalai lalu menaruhnya ke mulut. Tapi mereka belum bisa menghisap air lewat belalai, minumnya harus langsung lewat mulut.

Setelah tiga bulan gajah mulai bisa minum menggunakan belalai. Tapi mereka tetap menyusu pada induk, bahkan periode menyusui gajah bisa mencapai 3 tahun atau lebih. Air susu induk yang diberikan pada anak gajah yang berusia di atas dua tahun bertujuan untuk menjaga dan memaksimalkan pertumbuhan.

Anak gajah jantan bermain dengan berkelahi dan berguling-guling seperti anak kecil meniru adegan pertarungan serial kartun. Sedangkan anak gajah betina saling berlari dan berkejaran.

Menjaga Habitat Alami Sesuai Cara Berkembang Biak Gajah

Hewan sebesar gajah seharusnya hidup di hutan dan sabana yang luas. Sayangnya, kelestarian habitat alami mereka terancam oleh aktivitas ekonomi manusia.

Tidak hanya habitat, gajah juga menjadi target buruan untuk diambil gadingnya yang berharga mahal.

Kesimpuan 

Menjaga kelestarian gajah adalah tanggung jawab kita bersama. Meskipun tidak terlibat langsung dalam aksi lapangan, kita bisa membantu dengan turut mengkampanyekan perlindungan gajah lewat sosial media.

Langkah sekecil apa pun harus kita ambil guna mempertahankan eksistensi gajah di dunia. Dari cara berkembang biak gajah dan pola hidup mereka, pelajaran apa yang bisa kita petik?

Acuk Andrianto Seorang Perwira TNI AD Lulusan Akademi Militer ( Akmil ) Tahun 2004 Corps Infanteri. Membaca dan Menulis untuk meningkatkan Kemampuan Literasi .
error: Alert: Content is protected !!