Gaya Kepemimpinan Efektif Ala Militer

0
240
gaya kepemimpinan

Setiap orang pada dasarnya merupakan pemimpin, dimana minimal adalah sebagai pemimpin untuk dirinya sendiri.

Untuk itu Kepemimpinan adalah hal yang sangat penting bagi kita semua, karena dengan kepemimpinanlah kita akan tahu arah dan tujuan pribadi serta akan membawa bangsa dan negara kita kearah pencapaian tujuan perjuangan yaitu menciptakan keadilan dan kemamkmuran bagi NKRI.

Kita dapat mempelajari gaya kepemimpinan yang baik, Karena pada dasarnya kepemimpinan tidak dapat “diciptakan”, tetapi dapat “ditimbulkan”.  Oleh karena itu tidak mudah untuk menjadi pemimpin yang sejati.

Salah satu gaya kepemimpinan yang telah terbukti berhasil adalah dengan gaya kepemimpinan militer, Namun sebelumnya kita pelajari tentang gaya kepemimpinan ala militer yuk kita kupas tuntas dulu tentang kepemimpinan secara umum.

Arti Kepemimpinan

Kepemimpinan adalah Seni dan kecakapan dalam mempengaruhi dan membimbing orang bawahan, sehingga dari pihak yang dipimpin timbul kemauan, kepercayaan, hormat dan ketaatan yang diperlukan dalam penunaian tugas-tugas yang dipikulkan padanya, dengan menggunakan alat dan waktu, tetapi mengandung keserasian antara tujuan kelompok atau kesatuan dengan kebutuhan-kebutuhan atau tujuan-tujuan perorangan.

Leadershif is The Position, function or guidance of the leader, atau “Leadershif is the ability to lead

Sifat – Sifat Kepemimpinan

Sifat-sifat kepemimpinan adalah sikap dan tingkah laku yang dapat dilihat serta dicontoh oleh lingkungan sekitarnya. Karena kepemimpinan adalah ilmu, maka sifat-sifat kepemimpinan dapat dipelajari, dihafalkan, dihayati kemudian diamalkan dalam rangka melaksanakan kepemimpinan. antara lain :

1. Jujur

Sifat jujur merupakan perpaduan antara keteguhan watak, sehat dalam prinsip-prinsip moral, tabiat suka akan kebenaran, tulus hati dan perasaan halus mengenai etika keadilan dan kebenaran.

2. Berpengetahuan

Berpengetahuan adalah totalitas dari pada kecerdasan dan pengertian luas yang diperoleh dengan jalan belajar yang terus menerus.

3. Dapat dipercaya

Dapat dipercaya merupakan kepastian pelaksanaan kewajiban dengan setepat-tepatnya.

4. Tegas

Mampu mengambil keputusan dengan cepat dan tepat, dan menyatakan dengan jelas tanpa ragu-ragu. Ketegasan merupakan kemampuan mengambil keputusan atau tindakan yang tepat didasarkan kepada keyakinan bahwa keputusan atau tindakan itu akan membawa keuntungan dalam kepentingan atau pelaksanaan tugas.

5. Berinisiatif

Inisiatif adalah tindakan yang sehat dan tepat yang dilakukan atas dasar pemikiran sendiri pada waktu tidak ada perintah-perintah tentang bagaimana mengatasi kesukaran atau petunjuk-petunjuk dari atasan.

6. Berwibawa

Memberikan kesan yang baik dalam bentuk lahir dan melakukan pada setiap saat.

7. Adil dan Bijaksana

Bijaksana adalah Kemampuan bergaul dengan orang lain tanpa menimbulkan ketegangan. sedangkan Sifat adil adalah kualitas keadaan tidak berat sebelah dan ketegasan dalam pelaksanaan pimpinan.

Ciri Ciri Kepemimpinan

Ada 4 (empat) ciri-ciri kepemimpinan yang dapat diambil sebagai pegangan untuk mengetahui baik buruknya kepemimpinan, yaitu moril, disiplin, jiwa kesatuan/jiwa korsa dan kecakapan (keterampilan) dari pada kesatuan atau organisasi yang dipimpin.  

1. Mempunyai Moral yang Baik

Moril adalah Keadaan jiwa dan emosi seseorang yang berkaitan dengan tugas khusus dan meliputi kemampuan untuk melakukan apa yang harus dilakukan.  Moril adalah suatu yang subyektif dan sukar ditangkap serta berkaitan dengan perasaan-perasaan seseorang tentang pekerjaan dan organisasi.

Ciri-ciri adanya moril baik ditandai dengan  :

a)      Adanya perhatian yang benar.

b)      Kegembiraan.

c)      Perasaan taat yang mendalam.

d)      Sungguh-sungguh melaksanakan kewajiban-kewajiban.

e)      Perintah-perintah maupun petunjuk ditaati dengan baik.

f)       Kerja sama dan kegiatan berkarya dengan ikhlas.

2. Disiplin

Disiplin adalah ketaatan dengan tidak ragu-ragu dan tulus ikhlas kepada perintah-perintah atau petunjuk-petunjuk yang diberikan oleh atasan/pimpinan /komandan dengan menggunakan pikirannya.

Disiplin yang baik adalah disiplin pribadi yaitu disiplin yang timbul karena keinginan, pengertian yang baik mengenai tujuan dan karena loyal kepada atasan/pimpinan atau teman.   Pujian pimpinan kepada anggota bawahannya baik perorangan ataupun kesatuan terhadap suatu tugas yang telah diselesaikan dengan baik dapat memperkuat ikatan disiplin dan memperkokoh kerja sama tim secara lebih lancar dan kompak. 

3. Jiwa Kesatuan

Jiwa kesatuan adalah loyalitas, kebanggaan dan antusiasme yang tertanam pada anggota-anggota kesatuan atau korpsnya.  Apabila moril merupakan jiwa perorangan, maka jiwa kesatuan ini adalah jiwa yang dihasilkan dari kesatuan/korps atau badan/organisasi sebagai satu keseluruhan.

4. Kecakapan/ketangkasan

Kecakapan/ketangkasan adalah kepandaian menjalankan tugas dengan hasil yang baik dalam waktu yang sesingkat-singkatnya, tenaga yang sedikit-sedikitnya dan dengan keributan yang sekecil-kecilnya. 

Macam – macam Gaya Kepemimpinan

1. Gaya Kepemimpinan Otoriter

Dalam hal ini pemimpin tidak bersifat membimbing, tetapi lebih bersifat memerintah dan mengendalikan bawahan agar mereka dengan disiplin yang keras dan rasa loyalitas yang tinggi, dapat mencapai misi atau tujuan yang dikehendaki oleh pemimpin itu. 

Kekuasaan penting bagi pemimpin yang demikian itu, karena tanpa kekuasaan ia akan kehilangan sarana untuk mencapai tujuan.  Pola kepemipinan otoriter baik atau buruk, masih harus disesuaikan dengan kondisi dan situasi lingkungan yang ada. 

Dalam keadaan darurat atau sangat darurat terutama pada saat-saat bawahan tidak mempunyai lagi inisiatif dan semangat juang, pola kepemimpinan otoriter sering kali diperlukan. 

Sebaliknya dalam kondisi bawahan cukup mempunyai inisiatif dan tanggung jawab dalam pelaksanaan tugasnya, kepemimpinan yang demikian kiranya tidak perlu.

2. Kepemimpinan Demokratis

Dalam hal ini pemimpin bersifat membimbing bawahan.  Ia menjelaskan kebijaksanaan umum kepada bawahan dengan pedoman-pedoman yang tidak mengikat. 

Bawahan diharapkan dapat memlih cara-cara yang dikehendaki dalam mencapai tujuan dan dengan demikian secara spontan timbul rasa kesadaran akan tanggung jawab bawahan terhadap pencapaian tujuan bersama. 

Bawahan diharapkan bergerak sendiri, namun apabila ada penyimpangan barulah pemimpin memberikan pengarahannya.

3. Kepemimpinan Liberal

Gaya kepemimpinan liberal memberikan kebebasan mutlak kepada para bawahannya untuk bertindak dalam mencapai tujuan bersama. Pemimpin hanya akan memberikan nasehat apabila diminta oleh bawahan.  Inisiatif diserahkan sepenuhnya kepada bawahan, garis-garis umumnya saja yang ia jelaskan pada tingkat awal tugas. 

Apabila kepemimpinan otoriter menitik beratkan inisiatif dan kemampuan pada diri pemimpin dan kepemimpinan demokratis menitik beratkan inisiatif dan kemampuan pada kelompok dan keseluruhannya, maka pada kepemimpinan liberal inisiatif dan kemampuan ada pada masing-masing individu.  Kebebasan individu menjadi pangkal tolak yang utama.

4. Kepemimpinan Paternalistis

Gaya kepemimpinan ini banyak terdapat di negara-negara Asia, termasuk pula di Indonesia.  Dalam kepemimpinan ini pemimpin dianggap juga sebagai seorang ayah yang harus melindungi bawahan seperti keluarga sendiri.  Pemimpin sebagai pola seorang ayah harus dapat menjadi panutan, yaitu seorang yang dapat dianut. 

Karena itu ia harus dapat memberikan teladan kepada bawahannya.  Masih banyak pola-pola kepemimpinan lainnya, yang tidak perlu dijelaskan lebih lanjut.   Perlu diingat, bahwa setiap pola kepemimpinan yang ada  mempunyai segi-segi positif dan segi-segi negatifnya, yang harus diteliti lebih lanjut dan disesuaikan dengan keadaan, lingkungan dan kebutuhan setempat.

kepemimpinan

GAYA KEPEMIMPINAN MILITER

Gaya Kepemimpinan Militer adalah kepemimpinan yang secara operasional banyak diterapkan di jajaran organik TNI, yang meliputi kepemimpinan lapangan yang diterapkan dalam tugas-tugas operasi maupun taktik di lapangan, kepemimpinan manajerial dan kepemimpinan administratif.  Kepemimpinan militer pada hakikatnya merupakan penjabaran maupun penyederhanaan dari 11 Azas Kepemimpinan TNI.

Implementasi Kepemimpinan Militer

Dalam gaya kepemimpinan Militer di implementasikan dalam budaya Komando, Manajemen dan Administrasi, yaitu :

Komando

Pemimpin tidak bersifat membimbing, melainkan lebih bersikap memerintah dan mengendalikan bawahan secara otoriter, agar mereka dengan disiplin yang keras dan rasa loyalitas yang tinggi dapat mencapai misi atau tujuan yang dikehendaki oleh pimpinan itu.

Manajemen

Pemimpin akan banyak memanfaatkan keahliannya/kemahiran teknis, oleh karena itu diperlukan kelonggaran penerapan kepemimpinan otoriter maupun kepemimpinan demokrastis.   

Dalam keadaan darurat atau sangat darurat, terutama pada saat-saat bawahan tidak lagi mempunyai inisiatif dan semangat juang, pola kepemimpinan otoriter seringkali diperlukan. 

Sebaliknya dalam kondisi dimana bawahan cukup mempunyai inisiatif dan tanggung jawab dalam pelaksanaan tugasnya, kepemimpinan otoriter kiranya tidak diperlukan, sebab inisiatif “Keahlian” oleh para ahli maupun spesialis yang pada umumnya memiliki ciri-ciri ilmiah teknis seyogyanya tidak di “matikan”.

Administrasi

Pemimpin akan banyak memanfaatkan keahlian/kemahiran teknis.  Penelitian ilmiah maupun pengumpulan dan pengolahan data akan banyak dilakukan.     Setiap keputusan akan dilakukan dengan lebih berhati-hati.   

Untuk itu semua diperlukan tenaga ahli yang cukup banyak jumlahnya.    Lagi pula pemimpin akan selalu berpegang pada undang-undang dan peraturan-peraturan yang ketat dalam mengadministrasikan sumber daya manusia, alat peralatan, uang, metoda dan prasarana.  Pemimpin bersifat membimbing bawahan.  Ia menjelaskan kebijaksanaan umum kepada bawahan dengan pedoman pelaksanaan yang tidak mengikat.

Bawahan diharapkan dapat memilih cara-cara yang dikehendaki dalam mencapai tujuan dan dengan demikian secara spontan timbul rasa kesadaran dan tanggung jawab bawahan terhadap pencapaian tujuan bersama. 

Bawahan diharapkan bergerak sendiri, namun apabila ada penyimpangan barulah memberikan pengarahannya.  Dengan demikian kepemimpinan demokratis lebih banyak diterapkan.   Namun  bila saja terjadi pada saat-saat tertentu, bawahan tidak lagi mempunyai inisiatif dan semangat juang, misalnya karena pengaruh lingkungan yang membuatnya resah, kepemimpinan otoriter dapat saja  dalam waktu-waktu terbatas diterapkan;  dan bila hal ini terpaksa dilakukan, tidak boleh mengorbankan “keahlian” ilmiah teknis.

Bagaimana juga untuk kepemimpinan administrasi pendekatan persuasif lebih diutamakan agar inisiatif “Keahlian” tetap dapat dipelihara.

Kesimpulan

Demikianlah pembahasan kita kali ini tentang Gaya Kepemimpinan, Khususnya kepemimpinan Militer. Semoga bermanfaat dan menjadi tambahan ilmu tentang Kepemimpinan.

Bila merasa artikel ini bermanfaat anda dapat membagikan ulang agar dapat diketahui orang lebih banyak namun kami juga mengerti bahwa masih banyak kekurangan dalam penulisan ini untuk itu kami sangat menantikan Kritik dan saran baik melalui kolom komentar dan email kami.

Leadershif is the art of  coordinating  individuals and Groups to achiev ends

Jangan Lupa juga bagi dan share bila dirasakan artikel ini bermanfaat serta kritik dan saran bila ada kekurangan baik komen di kolom komentar atau email ke alamat email admin. Terima Kasih Wassalamualaikum Wr Wb

Tinggalkan Balasan