Acuk Andrianto Seorang Perwira TNI AD Lulusan Akademi Militer ( Akmil ) Tahun 2004 Corps Infanteri. Membaca dan Menulis untuk meningkatkan Kemampuan Literasi .

Serangan Umum 1 Maret 1949, Buktikan Indonesia Masih Ada

10 min read

jalannya serangan umum 1 maret

literacymiliter.com,- Hai Gaes setelah kemaren membahas Penyebab dan Latar Belakang dan jalannya Serangan umum 1 Maret 1949. Kali ini akan lanjutkan cerita kita pada Sejarah umum 1 Maret 1949 beserta Kronologi dan jalannya Serangan.

Kronologi-serangan-umum-1-maret

Jalannya Serangan Umum 1 Maret 1949

Berlanjut dengan Ditawannya Soekarno-Hatta. Pada saat Agresi Militer 2 Belanda membuat RI semakin terpuruk, namun jangan sebut Indonesia jika tidak berhasil mengatasi kegentingan yg ada.

Dalam keterbatasan Indonesia masih mempunyai banyak stok pemuda yg mempunyai rasa Nasionalisme tinggi, kekosongan tampuk pimpinan tidak membuat Indonesia bagai itik kehilangan induknya.

Latar belakang Serangan umum 1 Maret 1949 membuat TNI dan para pemuda segera melakukan upaya untuk mengisi kekosongan pemerintahan RI. Guna terus menjaga kedaulatan negara dari rongrongan belanda yang ingin kembali berkuasa melalui agresi militer Belanda 2.

Sempat ada saran untuk membentuk sebuah kabinet darurat perang (war Cabinet) dalam situasi yang gawat karena ditawannya pemimpin pemimpin RI oleh Belanda, namun hal ini di tolak oleh pimpinan tertinggi TNI saat itu, Jendral Soedirman.

Baca Juga:

Akhirnya di ambil keputusan bahwa harus dibentuk sebuah pemerintah darurat di Indonesia, dan akhirnya terbentuklah PDRI (Pemerintah Daerah Republik Indonesia) yang dipimpin oleh Sjafroeddin Prawiranegara.

Pemimpin PDRI ini tersebar, ada yg di Sumatera seperti Sjafroeddin Prawiranegara sendiri, Sutan Rasjid, dan lain-lain. Ada yang diluar negeri seperti A.A. Maramis yg diangkat sebagai Menteri Luar Negeri.

Baca Juga : Sejarah Perang Diponegoro

Dan ada yg di Jawa seperti Soesanto Tirtoprodjo, yang diangkat sebagai Menteri Kehakiman. Jabatan Sjafroeddin ialah sebagai Ketua PDRI.

Tersebarnya pemimpin pemimpin PDRI ini memang sengaja dilakukan, agar Belanda tidak mudah menangkap para pemimpin pemimpin tersebut. Taktik Politik yang cerdas, dimana jika satu pimpinan di tangkap, masih ada pimpinan lain yang bias segara memegang kendali pemerintahan

Disisi lain, Belanda merasa diatas angin, merasa sudah berhasil melenyapkan RI karena telah berhasil menangkap dan menawan Soekarno-Hatta.

Tetapi pada kenyataanya perkiraan Belanda itu salah besar, Indonesia masih punya banyak pemuda hebat selain Soekarno-Hatta. Ditawannya beliau tidak akan membuat Indonesia musnah.

Jiwa boleh ditawan, tapi pemikiran, nasionalisme, dan semangat juang tidak bisa dibatasi. Belanda juga lupa memperhitungkan hebatnya para tentara Indonesia, sehingga perhitungan diatas kertas Belanda tersandung realitas bahwa nasionalisme dalam diri pemuda Indonesia tidak pernah mati.

Soekarno – Hatta melawan melalui semangat juang yg diteruskan oleh rekan rekannya dalam PDRI, sementara Jendral Soedirman yang berhasil lolos saat terjadinya Agresi Militer Belanda 2 melakukan perlawanan fisik terhadap Pemerintah Belanda bersama pasukan TNI.

Baca Juga : Rangkuman Sejarah Agresi Militer Belanda 1 dan 2

Pertempuran demi pertempuran dilakukan oleh pasukan TNI di wilayah Jawa dan Sumatera. Menggunakan teknik tempur yg menyulitkan Belanda dalam menangkap dan menumpas mereka, yaitu Perang Gerilya.

Menyadari kekuatan TNI, Belanda mulai mengubah target penangkapannya, yang awalnya menargetkan para pemimpin politik menjadi mulai memburu pimpinan TNI terutama Jendral Soedirman.

Namun usaha Belanda menangkap Jendral Soedirman tidak pernah berhasil. Sementara, kondisi fisik Jendral Soedirman semakin lemah saat itu, penyakit paru paru yg di deritanya semakin parah, mengingat beliau melakukan gerilya dalam keadaan sakit.

Seperti kita tahu, taktik perang gerilya adalah taktik perang yg berpindah-pindah dan bersembunyi di dalam hutan, kondisi dingin dan kelelahan membuat penyakit Jendral Soedirman semakin parah. Kabar tentang sakitnya Jendral Sodirman ini terdengar oleh pihak Belanda, sehingga Belanda menilai bahwa TNI sudah mulai lemah dan akhirnya semakin gencar melakukan pencarian.

Namun perkiraan bahwa TNI mulai lemah itu salah, TNI tak pernah melemah, Jenderal Soedirman tetap melanjutkan gerilya dengan ditandu. Pada masa itu tugas TNI semakin berat dengan adanya kelompok Darul Islam pimpinan Kartosuwiryo yang menduduki daerah kantong yang sempat ditinggalkan TNI pada setelah perjanjian Renville.

Kronologi Serangan umum 1 Maret 1949 yang saat itu Menghadapi dua lawan sekaligus, Darul Islam dan Belanda tidak membuat TNI gagal, justru perjuangan mereka semakin menunjukkan hasilnya. Sehingga kemudian direncanakanlah sebuah usaha perebutan ibukota negara Jogjakarta.

Sekitar awal Februari 1948 di perbatasan Jawa Timur, Letkol. dr. Wiliater Hutagalung yang sejak September 1948 diangkat menjadi Perwira Teritorial dan ditugaskan untuk membentuk jaringan pesiapan gerilya di wilayah Divisi II dan III, bertemu dengan Panglima Besar Sudirman guna melaporkan mengenai resolusi Dewan Keamanan PBB dan penolakan Belanda terhadap resolusi tersebut dan melancarkan propaganda yang menyatakan bahwa Republik Indonesia sudah tidak ada lagi.

Melalui Radio Rimba Raya, Panglima Besar Sudirman juga telah mendengar berita tersebut. Panglima Besar Sudirman menginstruksikan untuk memikirkan langkah-langkah yang harus diambil guna memutarbalikkan propaganda Belanda.

Hutagalung yang membentuk jaringan di wilayah Divisi II dan III, dapat selalu berhubungan dengan Panglima Besar Sudirman, dan menjadi penghubung antara Panglima Besar Sudirman dengan Panglima Divisi II, Kolonel Gatot Subroto dan Panglima Divisi III, Kol. Bambang Sugeng.

Selain itu, sebagai dokter spesialis paru, setiap ada kesempatan, ia juga ikut merawat Panglima Besar Sudirman yang saat itu menderita penyakit paru-paru.

Pemikiran yang dikembangkan oleh Hutagalung adalah, perlunya meyakinkan dunia internasional terutama Amerika Serikat dan Inggris, bahwa Negara Republik Indonesia masih kuat, ada pemerintahan (Pemerintah Darurat Republik Indonesia/PDRI), ada organisasi TNI dan ada tentaranya.

Untuk membuktikan hal ini, maka untuk menembus isolasi, harus diadakan serangan spektakuler, yang tidak bisa disembunyikan oleh Belanda, dan harus diketahui oleh UNCI (United Nations Commission for Indonesia) dan wartawan-wartawan asing untuk disebarluaskan ke seluruh dunia. Untuk menyampaikan kepada UNCI dan para wartawan asing bahwa Negara Republik Indonesia masih ada, diperlukan pemuda-pemuda berseragam Tentara Nasional Indonesia, yang dapat berbahasa Inggris, Belanda, atau Prancis.

Panglima Besar Sudirman menyetujui gagasan tersebut dan menginstruksikan Hutagalung agar mengkoordinasikan pelaksanaan gagasan tersebut dengan Panglima Divisi II dan III.

Letkol. dr. Hutagalung masih tinggal beberapa hari guna membantu merawat Panglima Besar Sudirman, sebelum kembali ke markasnya di Gunung Sumbing. Sesuai tugas yang diberikan oleh Panglima Besar Sudirman, dalam rapat Pimpinan Tertinggi Militer dan Sipil di wilayah Gubernur Militer III, yang dilaksanakan pada tanggal 18 Februari 1949 di markas yang terletak di lereng Gunung Sumbing.

Selain Gubernur Militer/Panglima Divisi III Kol. Bambang Sugeng dan Letkol Wiliater Hutagalung, juga hadir Komandan Wehrkreis II, Letkol. Sarbini Martodiharjo, dan pucuk pimpinan pemerintahan sipil, yaitu Gubernur Sipil, Mr. K.R.M.T. Wongsonegoro, Residen Banyumas R. Budiono, Residen Kedu Salamun, Bupati Banjarnegara R. A. Sumitro Kolopaking, dan Bupati Sangidi.

Letkol Wiliater Hutagalung yang pada waktu itu juga menjabat sebagai penasihat Gubernur Militer III menyampaikan gagasan yang telah disetujui oleh Panglima Besar Sudirman, dan kemudian dibahas bersama-sama yaitu:

  1. Serangan dilakukan secara serentak di seluruh wilayah Divisi III, yang melibatkan Wehrkreise I, II dan III,
  2. Mengerahkan seluruh potensi militer dan sipil di bawah Gubernur Militer III,
  3. Mengadakan serangan spektakuler terhadap satu kota besar di wilayah Divisi III,
  4. Harus berkoordinasi dengan Divisi II agar memperoleh efek lebih besar,
  5. Serangan tersebut harus diketahui dunia internasional, untuk itu perlu mendapat dukungan dari Wakil Kepala Staf Angkatan Perang guna koordinasi dengan pemancar radio yang dimiliki oleh AURI dan Koordinator Pemerintah Pusat dan Unit PEPOLIT (Pendidikan Politik Tentara) Kementerian Pertahanan.

Latar belakang Serangan umum 1 Maret 1949

Latar belakang Serangan umum 1 Maret 1949 dan Tujuan utama dari ini rencana adalah bagaimana menunjukkan eksistensi TNI dan dengan demikian juga menunjukkan eksistensi Republik Indonesia kepada dunia internasional. Untuk menunjukkan eksistensi TNI, maka anggota UNCI, wartawan-wartawan asing serta para pengamat militer harus melihat perwira-perwira yang berseragam TNI.

Setelah dilakukan pembahasan yang mendalam, grand design yang diajukan oleh Hutagalung disetujui, dan khusus mengenai “serangan spektakuler” terhadap satu kota besar, Panglima Divisi III/GM III Kolonel Bambang Sugeng bersikukuh, bahwa yang harus diserang secara spektakuler adalah Yogyakarta.

Tiga alasan penting yang dikemukakan Bambang Sugeng untuk memilih Yogyakarta sebagai sasaran utama adalah:

  1. Yogyakarta adalah Ibu kota RI, sehingga bila dapat direbut walau hanya untuk beberapa jam, akan berpengaruh besar terhadap perjuangan Indonesia melawan Belanda.
  2. Keberadaan banyak wartawan asing di Hotel Merdeka Yogyakarta, serta masih adanya anggota delegasi UNCI (KTN) serta pengamat militer dari PBB.
  3. Langsung di bawah wilayah Divisi III/GM III sehingga tidak perlu persetujuan Panglima/GM lain dan semua pasukan memahami dan menguasai situasi/daerah operasi.

<

Acuk Andrianto Seorang Perwira TNI AD Lulusan Akademi Militer ( Akmil ) Tahun 2004 Corps Infanteri. Membaca dan Menulis untuk meningkatkan Kemampuan Literasi .
error: Alert: Content is protected !!