Apa yang Sebenarnya Terjadi di Kudeta Militer Myanmar?

1 min read

Apa yang Sebenarnya Terjadi di Kudeta Militer Myanmar?

Pada saat pemilu yang dimenangkan oleh Partai Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) yang dipimpin oleh Suu Kyi, pihak militer bersenjata yang mendukung oposisi merebut kendali pada tanggal 1 Februari 2021. Pihak militer menuntut agar dilakukan pemungutan suara ulang dan menganggap kemenangan Partai Liga Nasional Demokrasi sebagai penipuan.

Kemudian pihak militer melakukan kudeta dimana sejumlah orang turun ke jalan di seluruh Myanmar untuk melakukan aksi protes pada kudeta yang dilakukan oleh Angkatan bersenjata tersebut. Kemudian polisi menangani aksi demonstrasi warga tersebut dengan cara menembakkan meriam air, peluru karet dan peluru tajam.

Saat itu pihak militer mengumumkan bahwa keadaan di negara Myanmar adalah keadaan darurat selama setahun. Klaim militer yang menyatakan bahwa hasil pemilu adalah kecurangan dianggap tidak memiliki bukti oleh Komisi Pemilihan negara itu.

Sementara itu pemimpin NLD didakwa memiliki walkie-talkie yang diimpor secara ilegal dan sekarang merupakan tahanan rumah. Beberapa pejabat NLD juga ditahan saat itu.

Karena kudeta tersebut, negara Myanmar dipimpin oleh seorang panglima tertinggi yaitu Min Aung Hlaing yang merupakan sosok yang selama ini pengaruh politik yang signifikan. Min Aung Hlaing juga berhasil mempertahankan kekuatan Tatmadaw (militer Myanmar) walaupun saat negara itu dalam transisi menuju negara demokrasi.

Baca Juga:

Min Aung Hlaing juga merupakan sosok yang mendapatkan kecaman serta sanksi internasional karena melakukan serangan militer yang ditujukan untuk kaum minoritas. Dia juga memberikan pernyataan publik dimana dia menyebutkan bahwa tindakannya adalah benar dan mengatakan bahwa militer ada di pihak rakyat dan akan membentuk demokrasi yang benar dan adil. Militer juga akan mengadakan pemilihan yang bebas dan adil.

Demonstrasi yang dilakukan bukan merupakan kali pertama dimana demonstrasi terbesar yang pernah terjadi adalah Saffron Revolution pada 2007 saat ribuan biksu yang angkat bicara dan memprotes rezim militer.

Selain aksi demokrasi masyarakat Myanmar yang terjadi dalam menanggapi kudeta ini, para pegawai negeri juga melakukan pemogokan kerja nasional. Menanggapi hal itu, Jenderal Min Aung Hlaing mengancam akan melakukan “tindakan efektif” kepada para demonstran jika mereka tetap melakukan aksi demonstrasi ini. Pegawai negeri juga diserukan agar kembali bekerja.

error: Alert: Content is protected !!