Acuk Andrianto Seorang Perwira TNI AD Lulusan Akademi Militer ( Akmil ) Tahun 2004 Corps Infanteri. Membaca dan Menulis untuk meningkatkan Kemampuan Literasi .

Latar Belakang Serangan Umum 1 Maret 1949

4 min read

latar belakang serangan umum 1 maret

Hai sahabat Blog Militer, Hari ini, tepat 71 tahun yang lalu di Yogyakarta terjadi serangan besar besaran yang kemudian dikenal dengan nama Serangan Umum 1 Maret 1949. Tahukah kalian sejarah latar belakang dan kronologi terjadinya peristiwa ini ?

Yuk kita bahas bersama latar belakang serangan umum 1 maret 1949, Serangan ini digagas oleh Menhan pada waktu itu yaitu Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Serangan ini bertujuan untuk membuktikan kepada dunia International bahwa TNI (dan RI dalam arti luas) masih ada dan masih cukup kuat.

Semua ini adalah salah satu bentuk reaksi dari TNI (Republik Indonesia) atas penolakan Belanda terhadap resolusi Dewan Keamanan PBB dan kemudian melancarkan propaganda yang menyatakan bahwa Republik Indonesia sudah tidak ada lagi.

Baca juga : Sejarah Perang Diponegoro

Setelah melancarkan Agresi Militer 2 pada 19 Desember 1948, pemerintah menahan sejumlah Pimpinan Republik Indonesia, hal tersebut membuat Belanda dan sekutu merasa menang atas Indonesia, dan kemudian mengklaim RI sudah musnah.

Baca Juga:

Bagi mereka yang belum benar-benar memahami kronologi dan peristiwa sejarah serangan umum 1 maret ini akan timbul banyak pertanyaan dibenaknya, salah satunya adalah “mengapa TNI menyerang Yogyakarta?”

Bukankah Indonesia telah memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945, lalu mengapa masih ada pertempuran, penyerangan terhadap wilayah Indonesia?

Latar Belakang Serangan Umum 1 Maret 1949

Mari kita kupas satu persatu ya guys Latar Belakang Serangan Umum 1 Maret 1949, cekidot,,,, Indonesia memang telah memproklamirkan kemerdekaannya pada tanggal 17 agustus 1945, namun tahukah kalian guys, Proklamasi kemerdekaan Indonesia itu hanya membawa Indonesia kedalam ststus merdeka secara De Facto bukan secara De Jure.

Apa itu De Fakto? De facto berasal dari bahasa latin yg berarti “faktanya”, “kenyataannya”, atau “dalam praktiknya” sementara de jure itu artinya menurut atau berdasarkan hukum. Jadi, pada awal kemerdekaan Indonesia, Republik Indonesia belum diakui secara hokum sebagai Negara yang merdeka.

Pengakuan secara De Jure terhadap kemerdekaan Indonesia baru ada setalah 2 tahun proklamasi kemerdekaan Indonesia. Pengakuan secara De Jure ini sebagai hasil dari usaha pada masa Kabinet Sjahrir yang mengutus rombongan yang dipimpin Haji Agus Salim ke Negara Negara Islam.

Pengakuan pertama di berikan oleh Mesir pada tanggal 1 Juni 1947 disusul kemudian oleh Libanon (29 Juni 1947), Syiria (2 Juli 1947), Irak (16 Juli 1947), Afganistan (23 September 1947), Saudi Arabia (24 November 1947).

Negara Negara diluar yang disebutkan diatas belum mengakui kedaulatan Republik Indonesia pada masa itu, itulah sebabnya di awal awal kemerdekaan Indonesia masih banyak terjadi revolusi revolusi sosial di beberapa daerah dan terjadi banyak pertempuran pertempuran sebagai bentuk dari perlawanan dari invasi Negara Negara lain yg masih ingin menjajah dan memiliki Indonesia, diantaranya Belanda dan Inggris.

Keinginan Belanda untuk menguasai Indonesia kembali sungguh luar biasa, pemerintah pelarian Hindia Belanda yang berpangkal di Brisbane (Australia) setelah Perang Dunia II berakhir, segera menyusun strategi untuk kembali ke Indonesia dengan membonceng tentara sekutu (Inggris dan Australia) yang diberi tugas untuk mengurus tawanan perang Jepang di Indonesia.

Setelah Perang Dunia II berakhir, menurut ketentuan sekutu wilayah Indonesia jatuh kepada tanggung jawab Inggris (south west pacific area) dibawah pimpinan Marsekal Mountbatten. Tugas pokok dari tentara sekutu ini adalah melucuti Jepang dan melepaskan serta menampung tawanan tawanan.

Baca juga : Sejarah Perang Padri

Atas dasar pertimbangan itulah kemudian tentara sekutu mendarat di Jakarta pada 29 september 1945. Pada pendaratan tersebut ikut pula Van Der Plas serta beberapa orang dari Markas Tentara Belanda dan Kompi Serdadu Ambon.

Di wilayah Indonesia yang lain seperti Kalimantan, Sulawesi, dan Nusa Tenggara, Sekutu mendaratkan tentara Australia dengan tugas yang sama, kemudian baru pada bulan Juli 1946 tentara sekutu mulai meninggalkan wilayah-wilayah tersebut.

Sayangnya, pasukan Australia tersebut meninggalkan wilayah Indonesia dengan terlebih dahulu menyerahkan tanggung jawab terhadap pemerintahan Hindia Belanda. Bahkan di Makassar, diadakan upacara penyerahan tanggung jawab dari pimpinan Angkatan Perang Sekutu kepada pemerintah Hindia Belanda dibawah pimpinan Gubernur Jenderal Dr. HJ, Van Mook.

Sementara Inggris sendiri baru meninggalkan Jawa dan Sumatera pada bulan Desember 1946. Hal tersebut membuat Belanda merasa mampu menduduki Indonesia kembali, sehingga kemudian mereka melakukan banyak terror dan perebutan kekuasaan di banyak wilayah Indonesia termasuk Jakarta, Surabaya dan Jogjakarta. Pemerintah Belanda yg datang kemudian ini menamai dirinya Netherlands Indies Civil Administration (NICA).

Di Surabaya pendudukan tentara sekutu yg diboncengi tentara NICA menimbulkan pertempuran hebat yang dikenal dengan pertempuran Surabaya (10 November 1945) yang kemudian tanggal kejadiannya ditetapkan sebagai hari pahlawan. Di Medan terjadi pertempuran yang terkenal dengan nama Medan Area yang terjadi cukup lama dari tanggal 9 oktober 1945 hingga 15 Februari 1947.

Artikel Menarik : Sejarah Pertempuran Bandung Lautan Api

Pertempuran di bandung terkenal dengan Bandung Lautan Api yg mana pada waktu itu pemerintah ddan TKR yang terdesak harus meninggalkan dan mengosongkan Bandung selatan kemudian membakar semua fasilitas yg ada disana agar tidak dikuasai oleh tentara sekutu dan mengatur strategi nuntuk menggempur inggris dari luar pada tanggal 24 Maret 1946.

Pergolakan yang terjadi di Indonesia antara Inggris dan pihak Indonesia tersebut menarik perhatian wakil dari Ukraina di PBB yang bernama Manuilsky.

beliau kemudian mengirimkan surat kepada Dewan Keamanan PBB, yang isinya antara lain meminta perhatian Dewan Keamanan PBB terhadap keadaan di Indonesia. Wakil dari Belanda, van Kleffens membantah hal tersebut, mereka beralibi bahwa tindakan tentara sekutu terhadap Indonesia adalah sebagai bentuk perlawanan terhadap tindakan ekstrimis-ekstrimis yg ada di Indonesia.

Gugatan Ukraina ini kemudian ditolak oleh PBB. Pergolakan pergolakan yang terjadi pada kurun waktu tersebut pada akhirnya menghasilkan beberapa perundingan dan perjanjian, diantaranya Konfrensi Malino (juli 1946) yang membahas mengenai persoalan Kalimantan dan Timur Besar.

Perjanjian Linggarjati yang di tandatangani di Istana Merdeka Jakarta pada 15 Nopember 1946 dan ditandatangani secara sah oleh kedua belah pihak pada 25 Maret 1947. Salah satu “product’ dari perjanjian ini adalah dibentuknya Republik Indonesia Serikat (RIS) dimana wilayah yg diakui adalah RI (Jawa, Madura, dan Sumatera), Kalimantan dan Timur Besar. Perjanjian Renville yang ditandatangani pada 17 Januari 1948 diatas geladak kapal perang Amerika Serikat USS Renville. Perjanjian ini dimulai tanggal 8 Desember 1947 sebagai akibat dari Agresi Militer Belanda 1 (12 Juli 1947).

Perundingan ini di tengahi oleh Komisi Tiga Negara (KTN), Committee og Good Offices for Indonesia, yang terdiri dari Amerika Serikat, Australia dan Belgia.

Persetujuan Renville ini membawa banyak kesulitan terhadap Pemerintah RI, TNI sebenarnya keberatan dengan keputusan dalam perjanjian ini, karena dalam salah satu pasalnya, TNI diwajibkan untuk meninggalkan daerah daerah strategis yang dikuasainya di daerah Jawa (Jawa Barat dan Jawa Timur) karena termasuk dalam kekuasaan Belanda.

Daerah-daerah yang di duduki TNI yang letaknya di tengah tengah “daerah Belanda” disebut “daerah kantong”. Daerah kantong inilah yang harus dikosongkan.

TNI terpaksa harus meninggalkan daerah kantong menuju Yogyakarta yang pada masa itu menjadi Ibukota Negara RI. Perjanjian Renville ini membawa banyak kekacauan di dalam tubuh RI, munculnya pemberontakan PKI di Madiun pada 18 September 1948 yg dipimpin oleh Muso semakin memperlemah kedaulatan RI, keadaan ini dimanfaatkan oleh Belanda untuk melakukan Agresi Militer II untuk melenyapkan RI.

Agresi yang dipimpin oleh Jenderal Spoor dan Wakil Tinggi Mahkota Dr. Beel menyerbu Yogyakarta pada 18 Desember 1948. Agresi ini dilakukan belanda setelah malam sebelumnya Dr. beel berpidato bahwa Belanda sudah tidak lagi terikat dengan perjanjian renville. Yogyakarta tidak lagi bisa dipertahankan, Yogyakarta berhasil di duduki Belanda, pimpinan-pimpinan RI ditangkap, dibawa ke Prapat, kemudian ke Bangka. Kemudian pimpinan-pimpinan RI tersebut dibebaskan oleh Belanda kecuali Soekarno dan Hatta.

Taktik cerdas dan tepat saat terjadinya peristiwa ini adalah TNI tidak pernah menyerah terhadap Belanda. Pemerintah RI dilanjutkan eksistensinya oleh PDRI (Pemerintah Darurat Republik Indonesia) dibawah pimpinan Sjafroeddin Prawiranegara yang berpusan di Sumatrera Barat. Sedangkan Soekarno Hatta masih menjadi tawanan Belanda.

Sedangkan TNI yang pada saat itu dibawah kepemimpinan Jendral Soedirman sama sekali tidak menyerah dan tetap melakukan perlawanan yg kemudian terkenal dengan taktik perang gerilya.

Kendati kondisi Jendral Soedirman lemah karena penyakit paru paru yg di deritanya, beliau tetap memimpin perang gerilya melawan Belanda dengan target utama merebut kembali ibukota Negara RI Jogjakarta. Puncak perang gerilya ini adalah serangan terhadap Jogjakarta pada 1 Maret 1949 yang kemudian dikenal dengan serangan umum 1 Maret 1949.

Penulis : Dewi Kartika Rahayu

SUMBER :
Abdulgani, Ruslan. 1946. Api Revolusi di Surabaya. Surabaya : Ksatriya.
Agung, Ide Anak agung Gde. 1983. Renville. Diterjemahkan dari ; renville-als keerpunt in de Nederlands-Indische Onderhandelingen oleh Hanny Rangkuti dan Ny. M. Th. Sijabat-Ruyngkat. Jakarta : Penerbit sinar Harapan.
Agung, Ide Anak agung Gde. 1995. Persetujuan Linggarjati, Prolog dan epilog. Surakarta : Yayasan Pustaka Nusantara-Sebelas Maret university Press.
Kartodirdjo, Sartono. 1990. Pengantar Sejarah Indonesia Baru : Sejarah Pergerakan Nasional, dari Kolonialisme sampai nasionalisme. Jilid 2. Jakarta : Penerbit P.T. Gramedia.
Leimena, J. 1951. Perselisihan Indonesia Belanda. Jakarta : Grafika.
Nasution, A.H. 1953. Pokok-pokok Gerilya. Jakarta : Pembimbing.
Nasution, A.H. 1955. Catatan-catatan Sekitar Politik Militer Indonesia. Jakarta : Pembimbing.
Nyoman Dekker. 1977. Sejarah Pergerakan dan Revolusi Nasional. Malang : Penerbit IKIP Malang.
Ricklefs, M.C. 2008. Sejarah Indonesia Modern 1200-2008. Jakarta : Serambi.
Tirtoprojo, Susanto. 1962. Sejarah Revolusi Nasional Indonesia. Jakarta : Pembangunan.

Demikianlah Latar belakang Serangan Umum 1 maret 1949, Berlanjut bagian 2 Kronologi Kronologi Serangan Umum 1 Maret Bagian 2.

Acuk Andrianto Seorang Perwira TNI AD Lulusan Akademi Militer ( Akmil ) Tahun 2004 Corps Infanteri. Membaca dan Menulis untuk meningkatkan Kemampuan Literasi .
error: Alert: Content is protected !!