Acuk Andrianto Seorang Perwira TNI AD Lulusan Akademi Militer ( Akmil ) Tahun 2004 Corps Infanteri. Membaca dan Menulis untuk meningkatkan Kemampuan Literasi .

Perang Asimetris : Pengertian, Tujuan, Contoh Dan Pengaruhnya Bagi Indonesia

3 min read

contoh perang asimetris adalah dan pengaruhnya

Hai sahabat Blog Militer, setelah resmi Merdeka dan menjadi negara yang berdaulat pada 17 Agustus 1945, Indonesia menghadapi beberapa ancaman Militer maupun Non Milter. Salah satunya adalah Perang Asimetris, lalu Apa saja contoh perang simetris yang dihadapi Indonesia saat ini dan bagaimana pengaruhnya ? Yuk Kita Bahas bersama !!!

Baca Juga:

Perang Asimetris

Sebelum membahas tentang contoh dan pengaruhnya, mari kita bahas dulu apa sih definisi atau pengertian Perang Asimetris.

Jika dulu ketika mendengar kata perang, kita akan langsung membayangkan dua kubu yang saling berlawanan. Di mana keduanya saling menyerang baik dengan senjata tradisional berupa tombak, pedang dan lain sebagainya.

Baca Juga:

Bisa juga dengan senjata modern seperti tembak, meriam, rudal dan masih banyak lagi lainnya.

Baca Juga : Contoh Ancaman Militer

Namun, kini terdapat ancaman yang lebih menakutkan dari perang konvensional tadi, yaitu kemungkinan perang asimetris di Indonesia.

Pada Dasarnya Perang Asimetris adalah perang antara dua pihak dengan kekuatan yang tidak seimbang (David & Goliath) dengan pola yang tidak beraturan dan bersifat tidak konvensional. Masing-masing pihak berusaha untuk mengembangkan taktik dan strategi untuk mengeksploitasi kelemahan lawannya dalam mencapai kemenangan.

Perang Asimetris dan Skema Penjajahan Baru Di Indonesia

Asymmetric warfare merupakan suatu model peperangan yang dikembangkan dari cara-cara berfikir yang tidak lazim, dan diluar aturan aturan peperangan yang berlaku, dengan spektrum perang yang sangat luas, terbuka dan mencakup seluruh aspek-aspek kehidupan.

Sehingga model perang ini diprediksi akan dijadikan skema penjajahan baru di Indonesia yang harus dihadapi.

Perang asimetris juga merupakan salah satu bentuk ancaman non militer, akan tetapi daya hancurnya bahkan bisa lebih besar dari ancaman militer atau perang konvensional.

Medan perang asimetris meliputi berbagai aspek kehidupan masyarakat setempat di sini khususnya Indonesia yang terdiri dari ragam perbedaan dan cukup menjadi celah terjadinya perang asimetris di Indonesia.

Perang asimetris dapat berupa aksi massal yang di lakukan di jalanan, dengan tujuan menekan target yang ingin dijatuhkan.

Selain itu, bisa juga berupa kebijakan tokoh pemerintahan di mana setiap kebijakannya justru pro asing dan bertentangan dengan misi pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat secara keseluruhan.

Tujuan Perang Asimetris

Tujuan dari perang asimetris baik di Indonesia atau mungkin negara lainnya adalah membelokkan sistem negara agar sesuai dengan kepentingan kolonialisme, melemahkan ideologi masyarakatnya, mengubah pola pikir rakyat secara menyeluruh, menghancurkan ketahanan ekonomi juga sumber daya manusia, kemudian membentuk ketergantungan negara atas hal yang sudah dirusak dari dalam tersebut.

Indonesia dengan beragam suku, agama juga budaya lebih rentan untuk disusupi dari dalam. Hanya persatuan yang mampu menangkal adanya perang asimetris di Indonesia.

Baca Juga : Rangkuman Agresi Militer 1 Dan 2

Sebab dengan menjaga persatuan dan kesatuan, tidak akan ada pihak manapun yang bisa memecah belah. Baik berupa isu, ataupun berita yang menimbulkan kepanikan dan melemahkan ketahanan ekonomi maupun sumber daya manusia di negara kita.

Sementara untuk para elit politik, mereka hanyalah segelintir orang. Seandainya ada yang bekerja bukan demi kesejahteraan masyarakat kita masih bisa mengandalkan DPR juga MK untuk mengatasinya.

Namun sebelum itu terjadi, ketika Pemilu berlangsung gunakan hak pilih dengan bijak. Bukan berdasar kepentingan pribadi ataupun golongan melainkan untuk pemerintahan di masa depan yang mampu menyejahterakan.

Contoh Perang Asimetris Di Indonesia

Berikut ini beberapa kejadian dalam negeri yang bisa diidentifikasi sebagai upaya dan contoh perang asimetris di Indonesia dimana sebagian telah terjadi.

1. Demo Anarkis

Sebagai warga negara kita mempunyai hak untuk menyuarakan pendapat dengan melaksanakan Demo atau Unjuk Rasa.

Namun tak dapat dipungkiri pula bahwa ada sebagian aksi demo / unjuk rasa yang ditunggangi oleh kepentingan – kepentingan lain sehingga menimbulkan kericuhan, chaos bahkan konflik komunal yang berdampak buruk pada kedaulatan Negara.

Ada beberapa contoh demo anarkis yang tercatat dalam sejarah Indonesia dan di indikasikan merupakan salah satu bentuk Perang Asimetris dimana ada keterlibatan pihak asing yang ingin Indonesia mengalami Chaos.

Demo yang berakhir Anarkis tersebut antara lain seperti Demo Mahasiswa pada tahun 1966, Demo atau Peristiwa Malari 1974, Demo pada Mei 1998 dan juga Demo menolak Omnibus Law / UU Tenaga kerja yang terjadi pada akhir tahu 2020.

2. Peredaran Narkoba

Contoh perang Asimetris di Indonesia selanjutnya adalah peredaran Narkoba dimana Pemerintah telah menetapkan Darurat Narkoba.

Narkoba merupakan salah satu alat perang asimetris yang ditujukan kepada Indonesia dimana didalamnya di indikasikan adanya pihak yang Ingin Indonesia Hancur.

Data BNN menyebutkan bahwa sekitar 3,6 juta masyarakat Indonesia merupakan pengguna narkoba.

Koordinator Indonesia Narcotics Watch, Josman Naibaho mengatakan bahwa upaya pelemahan sumber daya manusia khususnya generasi muda Indonesia lewat penyelundupan dan pengedaran narkoba.

Kerap kali kerja sama internasional tidak berjalan optimal dikarenakan adanya upaya untuk melemahkan bahkan menghancurkan negara Indonesia.

Salah satu cara yang paling berbahaya adalah dengan menyelundupkan dan mengedarkan narkoba.

Sebab dengan berhasil mengedarkan narkoba di Indonesia, bukan tidak mungkin dalam beberapa puluh tahun ke depan, Indonesia akan berhasil dijatuhkan.

Sebab telah lemah ketahanan ekonominya begitupun dengan sumber daya manusianya dengan rusaknya kualitas generasi penerusnya.

3. Jebakan Hutang Negara

Selain Unjuk Rasa Anarkis dan peredaran Narkoba, Indonesia juga diancam oleh jebakan Hutang oleh beberapa negara asing.

Sesuai dikutip Mimin dari Liputan 6 bahwa pada tahun 2020 Indonesia berada pada posisi ke-6 daftar negara dengan hutang terbesar di Dunia, Total hutang Indonesia USD 402,08 miliar atau sekitar Rp 5.907 triliun (kurs Rp 14.693 per USD) di 2019.

contoh perang asimetris di indonesia hutang negara

Gagal bayar akan hutang negara juga berpotensi terjadinya perang asimetris di Indonesia. Sebab dengan begitu sama dengan membebaskan pihak asing untuk menguasai aset negara kita.

Di dukung dengan teknologi yang kian berkembang saat ini, bukan tidak mungkin pula akan ada senjata tak terlihat yang merusak pertahanan kita secara tiba-tiba. Bahkan mungkin bekerja perlahan dari dalam semacam virus yang menyebabkan kepanikan, memicu keresahan, ketakutan dan akhirnya menyebabkan kemiskinan lalu kematian.

Baca Juga : Ancaman Non Militer

Untuk bisa menghindari, mencegah dan menangulangi perang asimetris di Indonesia, diperlukan peran dari setiap elemen masyarakat dan juga pihak pemerintahan.

Dengan adanya sinergi yang baik, tidak akan ada celah yang dapat dimanfaat oleh pihak luar untuk melemahkan negara kita. Selain persatuan dan kesatuan, kesadaran untuk memanusiakan orang lain dalam mencapai kesejahteraan juga kunci kuatnya pertahanan.

Pengaruh Asymmetric warfare di Indonesia

Kekayaan alam yang dimiliki Indonesia, layaknya pelet pemikat bagi negara-negara di dunia. Sebab itulah akan selalu ada yang mencari celah, agar bisa memulai perang asimetris di Indonesia.

Melemahkan sendi-sendi ekonomi secara perlahan, kemudian dilanjutkan dengan menghembuskan isu agar terjadi perpecahan.

Semua kejadian di dalam negeri kita tercinta, tanpa disadari ada campur tangan ‘invisible hand’ yang sudah membuat skenario agar bisa melemahkan persatuan dan kesatuan dari berbagai aspek kehidupan.

Kesimpulan

Asymmetric warfare merupakan perkembangan dari perubahan faktor instrumen pelaku peperangan. Dimana Aktor non-negara menjadi semakin berperan.

Tidak adanya institusi dominan dalam proses pengambilan keputusan, maka perlu instrumen evaluatif terhadap berbagai produk legeslasi dan kebijakan yang dianggap kurang relevan dalam fungsinya sebagai suatu instrumen solusi dengan rujukan utama adalah UUD 45 dan UU RPJP.

Demikianlah pembahasan kali ini tentang Perang Asimetris, Tujuan, Contoh dan Pengaruhnya bagi Indonesia. Semoga bermanfaat. Salam Literasi.

Acuk Andrianto Seorang Perwira TNI AD Lulusan Akademi Militer ( Akmil ) Tahun 2004 Corps Infanteri. Membaca dan Menulis untuk meningkatkan Kemampuan Literasi .
error: Alert: Content is protected !!