Acuk Andrianto Seorang Perwira TNI AD Lulusan Akademi Militer ( Akmil ) Tahun 2004 Corps Infanteri. Membaca dan Menulis untuk meningkatkan Kemampuan Literasi .

Perang Masa Depan, Teori Bentuk Dan Strategi

6 min read

Strategi dan bentuk perang masa depan

Hai Sahabat Blog Militer Indonesia, Dunia tak lepas dengan peperangan, selama nafsu manusia untuk tampil lebih hebat dari negara lain dan adanya kebutuhan terhadap sumberdaya alam bagi negaranya, Perang akan terus terjadi. lalu Bagaimana dengan Teori, Strategi dan Bentuk Perang Masa Depan ? Berikut Prediksinya

Baca Juga:

Perang Masa Depan

Teori, Strategi dan Bentuk Perang Masa Depan akan sangat dipengarui oleh revolusi dominasi militer atau lebih dikenal dengan istilah Revolution Military Affair (RMA).

Dimana Hal tersebut akan berbeda dengan pelaksanaan perang masa lalu.  

Sejarah perang memperkenalkan perkembangan perang dari masa kemasa, dan sering disebut sebagai generasi perang.  

Perang dunia 2 telah menunjukkan kepada dunia betapa pesatnya teknologi perang dan jangkauan wilayah, dan dampak yang diakibatkan oleh sebuah peperangan. 

Teori Perang Masa Depan

Para ahli Militer memprediksi dalam beberapa teori bahwa perang masa depan akan dipenuhi dengan teknologi militer yang canggih dan mempunyai daya hancur yangsnagat Dahsyat.

Perkembangan teknologi militer dalam persenjataan dan mobilitas serta kebutuhan militer dalam melaksanakan peperangan, telah merubah doktrin dan teori perang yang selama ini ada.

Dalam berbagai teori tentang perang masa depan mereka mengungkapkan bahwa telah terjadi perubahan Pola peperangan yang sangat pesat.\

Hal ini dipicu oleh perkembangan teknologi Informasi dan Komunikasi yang secara langsung dan tidak juga menyebabkan perubahan dalam teknologi Militer

Baca Juga : Contoh Ancaman Militer

Hal ini menyebabkan bahwa angkatan perang tiap – tiap negara harus menyesuaikan dengan melakukan perubahan doktrin peperangan, untuk mewadahi perkembangan teknologi yang terjadi.  

Dalam Perang Masa depan kapabilitas sebuah angkatan perang akan ditinjau dari beberapa faktor utama yaitu :

1. Kemampuan untuk memperoleh informasi dan intelijen strategis untuk mendukung rencana strategi; 

2. Kemampuan gelar pasukan yang terkoordinasi dan dilengkapi dengan sarana prasarana mobilitas dan logistik;  

3. Dukungan tempur yang ditentukan oleh penggunaan teknologi digital untuk mempercepat dan mengintegrasikan sistem logistik didaerah pertempuran;

4. Kapabilitas manuver, sebagai kemampuan untuk meningkatkan kemampuan menyerang, penggelaran pasukan dan penerobosan;

5. Kapabilitas  mobilitas pasukan, yang didukung oleh kesamaptaan prajurit dan dukungan alat angkut baik darat,air dan udara;   dan kapabilitas tempur pasukan.

6. Kemampuan bertempur militer, diukur dari kapasitas angkatan bersenjata dalam melaksanakan gelar pasukan secara cepat  diberbagai wilayah dan berbagai situasi konflik.

7. Manuver pertempuran yang berkelanjutan dengan dukungan tempur dan fasilitas yang setara;

8. Operasi militer yang efektif dan adaptasi medan pertempuran secara kenyal.

Pengetahuan tentang perang berkembang dengan pesat dan diminati oleh berbagai kalangan, yang memunculkan berbagai diskusi dan perdebatan yang mengarah kepada kemajuan dalam penerapan prinsip-prinsip peperangan.  

Salah satu Teori Perang masa depan adalah Davids Dickend. (2008) Dalam kajiannya menyampaikan ada 4 faktor utama sebagai indikasi yang mendukung revolusi peperangan masa depan yaitu : K4ISR, Kerjasama antar kesenjataan, Teknologi militer modern dan doktrin pertempuran modern. 

Sinergi dari keempat faktor inilah yang menjadi motor revolusi peperangan dan kemampuan organisasi dengan memenuhi  empat faktor ini akan menjadi militer yang disegani oleh kawan dan ditakuti lawan.

Bentuk Perang Masa Depan

Menghadapi perkembangan perang,  berbagai teori muncul tentang tren peperangan masa depan yang diprediksi lebih banyak akan terjadi dalam perang kota dan perang menghadapi ancaman non tradisional.  

Perang kota dan menghadapi ancaman non tadisional, merupakan generasi baru peperangan masa depan, yang tidak dapat dihadapi dengan menerapkan komponen dan prinsip peperangan generasi sebelumnya.

Akibat pengaruh perkembangan teknologi, menyebabkan perubahan doktrin militer, yang berkembang mengikuti perubahan generasi peperangan dan perkembangan teknologi persenjataan militer.

Baca juga : Ancaman Non Militer

Meskipun demikian, perkembangan teknologi tidak secara serta merta berpengaruh kepada strategi nasional, srtategi pertahanan dan strategi militer yang berada pada tataran yang relatif jauh diatas. 

Kebutuhan Komando dan pengendalian.   Dengan perkembangan teknologi digital dan teknologi komunikasi yang sangat pesat, yang juga diterapkan dalam dunia kemiliteran, telah mengubah kemampuan pada perangkat komunikasi sebagai sarana komando dan pengendalian, sehingga pengendalian pasukan dapat dilakukan secara langsung oleh pimpinan militer tertinggi.

Bagi para perencana dan pengendali operasi, perolehan informasi sedemikian cepat, tetapi tidak memberi cukup waktu untuk memanfaatkan bagi kepentingan perencanaan.

Namun secara umum penerapan teknologi ini sangat membantu pelaksanaan peperangan, dimana pemanfaatan informasi dapat langsung digunakan oleh komandan pasukan yang berada dilapangan .

Dengan memanfaatkan system komunikasi digital, terutama bagi angkatan darat, teknologi dapat ditanam pada peralatan militer, perlengkapan perorangan prajurit, sehingga memungkinkan para jenderal dan pimpinan politik dapat langsung melihat gerakan pasukan dilapangan.   

Para pejabat politik dapat melakukan intervensi langsung terhadap pelaksanaan peperangan, melalui methode tele conference dan dapat memutuskan apa yang harus dilakukan oleh sebuah unit tempur, bahkan memutuskan apa yangharus dilakukan oleh perorangan prajurit.   

Pimpinan militer dapat mengendalikan unsur ± unsur tempurnya mulai tingkat penerapan strategi, operasi bahkan sampai pada tingkat taktis. 

Seperti yang disampaikan sebelumnya pimpinan militer dapat menggunakan perangkat komunikasi digital yang memungkinkan untuk dapat mengikuti setiap gerak pasukannya.

Bahkan juga mengamati gerakan pasukan musuh, sehingga dari jarak jauh dapat mengarahkan pasukannya harus melakukan apa, bergerak kearah mana, menunjukkan tempat-tempat rawan dan perlindungan yang dapat dimanfaatkan oleh unit dan perorangan.   

Dengan menerapkan teknologi satelit dan sensor radar yang dapat menayangkan pencitraan secara detail setiap sasaran musuh, sehingga jauh sebelum peperangan dilakukan, unit-unit tempur sudah dapat mempelajari situasi dan kondisi dimana mereka nantinya akan diterjunkan.

Perkembangan dilapangan sebagai dinamika peperangan dapat dipantau dari jarak jauh dan setiap unit tempur dapat dikendalikan secara langsung.   Bagi negara-negara maju yang telah menerapkan teknologi ini dan menjadi dua fihak yang berhadapan, menyebabkan peperangan akan menjadi lebih transparan dan tentu saja menyulitkan bagi kedua fihak.   

Prinsip kerjasama antar kesenjataan.   Peperangan darat, meskipun tetap akan mengerahkan sumberdaya yang relatif sama dengan generasi peperangan terdahulu, namun teknologi persenjataan yang digunakan sangat jauh berbeda.  

Artileri, menerapkan teknologi peluru kendali (Precision Guided Munition) yang dapat menyerang sasaran secara tepat pada fasilitas komando dan fasilitas pendukung operasi musuh lainnya dengan tepat dan cepat.

Pasukan digerakkan dalam unit-unit kecil yang dilengkapi dengan sarana angkut yang dapat bergerak cepat, untuk menghindar terhadap bidikan dari kekuatan musuh yang mematikan.

Selain gerakan cepat, pasukan juga dilengkapi dengan peralatan anti deteksi radar sebagai perlindungan pasif, untuk mencegah terjadinya korban karena menjadi sasaran tembak musuh.

Pasukan Infantri, tidak dibiarkan hanya dengan mengandalkan kemampuan jalan kaki, namun didukung dengan kendaraan mekanis, berupa kendaraan angkut lapis baja, yang berfungsi melindungi prajurit, mempercepat manuver pasukan dan sekaligus membawa dukungan perlengkapan, persenjataan dan logistik.  

Pertimbangan ini dilakukan karena Infantri akan melakukan tugas jauh kedepan merebut posisi-posisi yang menguntungkan.   

Dengan penguasaan daerah oleh Infantri, akan memberi peluang kepada Kavaleri dan Artileri, untuk memindahkan kedudukan agar jarak tembak dua jenis kesenjataan ini lebih jauh kedepan; memberi keluasaan bagi unsur lain untuk konsolidasi dan menyusun rencana lebih lanjut.

Untuk menjamin keamanan gerakan Infantri dan pasukan darat dari serangan udara,  penguasaan udara oleh angkatan udara harus dapat diwujudkan, sehingga gerakan pasukan dapat dilindungi oleh kehadiran Angkatan udara atau kekuatan udara, karena pasukan darat memiliki kerawanan terhadap serangan udara musuh.  

Tanpa dukungan penguasaan udara, Infantri hanya akan menjadi korban serangan udara musuh.  

Pasukan darat sebagai penentu untuk memastikan bahwa wilayah diduduki dan dikuasai, tetapi sebelum pasukan darat bergerak diwilayah musuh, maka tugas penghancuran sasaran harus dilakukan oleh kekuatan udara taktis, dan bila mungkin juga dibantu oleh tembakan roket kapal laut, sebagai tugas tambahan bagi Angkatan laut. 

Disamping melakukan blokade laut, Angkatan laut juga berkewajiban untuk melaksanakan penghancuran sasaran didarat, yang dilakukan secara simultan dengan kekuatan udara.

Selain kerawanan terhadap serangan udara musuh, pasukan darat juga rawan terhadap kavaleri musuh, oleh sebab itu, pasukan Infanteri dibekali juga dengan roket louncer anti tank dan anti perkubuan serta anti personel.  

Termasuk senjata lawan tank lapis baja, agar bila terpaksa berhadapan dengan Kavaleri musuh, masih dapat melakukan perlawanan, bahkan dapat melumpuhkan Kavaleri berlapis baja. 

Namun demikian penghancuran tank musuh menjadi bagian tugas para penerbang helicopter serbu yang ditugasi untuk melindungi pasukan yang bergerak didarat dengan menghancurkan kendaran lapis baja musuh.Helicopter yang bertugas dan merupakan modifikasi artileri terbang, sehingga jangkauan tembakan dan pengendalian rudal menjadi lebih efektif meskipun dalam operasionalnya menjadi jauh lebih mahal.

Kerjasama antar kekuatan laut dan udara, secara khusus belum banyak mengalami perubahan berkaitan dengan revolusi peperangan militer, sehingga operasi laut dilakukan seperti yang sudah berlaku, harus sinergi dan mendapat mengawalan dan perlindungan dari kekuatan udara.

Tugas tambahan bagi kekuatan udara dan kekuatan laut adalah menyediakan informasi dari hasil pengintaian dimasing-masing wilayahnya untuk mendukung penerapan strategi, sehingga tidak terjadi kesalahan / kekurangan informasi disegala lini.

Untuk mempersiapkan kekuatan militer dalam era kecanggihan teknologi seperti saat ini, konsep pertahanan yang relatif menguntungkan adalah dengan pengaturan dislokasi pasukan yang bersinergi.  

Dalam satu pangkalan, disamping kekuatan pasukan, juga didukung dengan kekuatan udara dan angkutan laut (bila memungkinkan) serta kesiapan logistik dan dalam satu Komando.  

Pertimbangan seperti ini diarahkan pada pola pengawasan wilayah lebih luas, dengan pengertian medan kritik tetap diduduki dan dikuasai, namun bila perkembangan ancaman terjadi ditempat lain, pengerahan pasukan kedaerah lain dapat dilakukan lebih cepat, dengan mengandalkan angkutan udara.  

Sehingga proyeksi pasukan dapat lebih cepat mencapai sasaran.Dengan dukungan teknologi penginderaan , teknologi komunikasi dan intelijen yang akurat, perkembangan situasi disetiap daerah dapatdimonitor, dan bila ancaman muncul , pasukan dapat segera dikerahkan untuk menghadapinya.

Strategi Perang Masa Depan

Dalam Strategi perang masa depan, suatu negara yang menguasai teknologi militer lebih dari negara lain akan mempunyai kesempatan memenangkan pertempuran lebih besar.

Perkembangan persenjataan pada era digital seperti yang berkembang saat ini, tingkat akurasi menjadi lebih optimal, sehingga dapat menghindari kemungkinan korban sipil.  

Karena sasaran dapat dipastikan, untuk sasaran strategis, berupa pusat komando dan pengendali, pusat komunikasi, konsentrasi pasukan dan tempat-tempat penyimpanan logistik.  

Dalam Strategi Perang Masa Depan Untuk menghindari pemantauan dan pelacakan oleh musuh dengan teknologi canggih, maka teknologi penyamaran juga harus ditingkatkan.

Radar Militer dapat mengenali bentuk-bentuk tertentu, sehingga memanipulasi bentuk ini dapat mengurangi pengenalan radar terhadap kedudukan pasukan dan daerah strategis lainnya.  

Selain penyamaran bentuk tampilan, Strategi perang masa depan juga memohon kemampuan sensor sonar hanya berlaku bagi peralatan digital yang aktif.

Sehingga bagi pasukan yang sedang bergerak atau pada posisi statis, untuk menghindari pendeteksian musuh, dengan melakukan pemadaman peralatan elektronik, untuk sementara waktu, sampai waktu yang telah disepakati dalam perencanaan.

Akhir Kata

Nah sekarang kita telah mempelajari perkembangan prinsip pertempuran masa depan, para perencana penataan ruang wilayah harus berfikir dan menyesuaikan, sepertI apa sebenarnya kebutuhan ruang yang paling cocok dengan bentuk peperangan di masa depan. 

Penguasaan medan dan adaptasi terhadap medan merupakan faktor mutlak bagi pasukan yang bertahan dan dengan pengenalan serta penguasaan medan secara detail, perencanaan pemanfaatan ruang menjadi lebih efektif untuk memenangkan pertempuran

Demikianlah pembahasan kita kali ini tentang Perang Masa Depan, Teori Bentuk Dan Strategi, jangan lupa shre.

Baca Juga:
Acuk Andrianto Seorang Perwira TNI AD Lulusan Akademi Militer ( Akmil ) Tahun 2004 Corps Infanteri. Membaca dan Menulis untuk meningkatkan Kemampuan Literasi .
error: Alert: Content is protected !!