Sejarah Perang Padri : Bersatunya Ulama dan Kaum Adat

0
91
sejarah perang padri

Sejarah Perang Padri – literacymiliter.com ,- Hai Sahabat sejarah kemerdekaan kita tidak akan pernah lepas dari perjuangan para Pahlawan baik dari kalangan Ulama. Politikus, Kaum Adat, Pengusaha dan Juga Pemudanya.

Sejarah mecatat berbagai perang besar di berbagai belahan wilayah seperti Perang Diponegoro atau biasa dikenal perang Jawa, Perlawanan Rakyat Aceh, Perlawanan Rakyat Ternate, Perang Puputan Margarana , Perang Padri dan masih banyak perang lain yang tak dapat kami sebutkan semuanya.

Dan pada kesempatan kali ini kita akan merangkum Sejarah Perang Padri, sebagai salah satu perang yang tercatat sebagai perlawanan terhadap Kolonialisme yang menyebabkan kerugian besar terhadap Belanda.

Baca Juga : Sejarah Perang Dunia 2

Dari sekian banyak perang yang terjadi, perang padri merupakan pertempuran yang bersejarah. Perang ini terjadi di tanah Sumatera Khususnya di wilayah Minangkabau dan berlangsung selama kurang lebih 30 tahun lamanya.

Perang Padri juga mengakibatkan Banyak Korban yang meninggal dunia baik dari Pihak Pejuang maupun Pihak Belanda. Ada beberapa fakta menarik dari sejarah perang padri ini.

Mulai dari penyebab, kronologi hingga dampaknya memang terus teringat. Apalagi yang paling menonjol dalam perang ini adalah kisah keterlibatan Mantan panglima dalam Perang Diponegoro.

Bahkan ada perang padri juga menjadi sejarah pengingat dimana Indonesia mengalami perpecahan oleh dua kaum yang ada di dalam tubuh Masyarakat Indonesia itu sendiri. Tentu rakyat Indonesia harus belajar dari berbagai peristiwa yang ada.

Sejarah dan Fakta Terjadinya Perang Padri

Terjadinya perang padri pada awalnya adalah peperangan di Sumatera Barat. Perang ini terjadi tepatnya di wilayah Kerajaan Pagaruyung tahun 1803 hingga 1838.

Perang dipicu karena perbedaan prinsip tentang agama antara kaum Padri atau Ulama dengan kaum adat. Tetapi perang ini lama kelamaan menjadi sebuah perang yang melawan penjajah Kolonialisme Belanda.

Hal ini menyebabkan masuknya belanda dan mencampuri urusan di Minangkabau, Perlu diketahui bahwa pada saat itu sebagian besar rakyat Minangkabau beragama Islam Namun masih mempraktekkan ajaran ajaran yang adat istiadat yang tidak sesuai ajaran Islam.

Namun Akhirnya Ulama / Kaum Padri dan Kaum Adat menjadi satu dan bersama berjuang dalam melawan Belanda. sehingga terjadi peperangan yang sangat hebat.

Sejarah bersatunya Kaum Adat, Kaum Padri dan Ulama dalam melawan Kolonilaisme sendiri terjadi Mulai 1821 hingga 1838 sebagian sejarah juga mencatat hingga 1837.

Sementara jika melihat sejarah Perang Padri dan apa penyebabnya, perang bermula ketika adanya pertentangan dari kaum padri atau kelompok para ulama dengan kebiasaan-kebiasaan buruk yang ada di masyarakat.

Kebiasaan ini seperti judi, sabung ayam, tembakau, minuman keras ataupun penggunaan hukum matriarkat dalam pembagian warisan. Masyarakat terus melakukan kebiasaan tersebut yang akhirnya memcu amarah dari kaum Padri.

Dari titik inilah terjadi peperangan. Perang Padri sendiri disebut juga sebagai perang saudara karena di dalamnya melibatkan Minang dan juga Mandailing.

Tokoh Perang Padri adalah para pemimpinnya dimana Kaum Padri dipimpin oleh Harimau Nan Salapan. Sementara untuk kaum Adat dipimpin oleh Sultan Arifin Muningsyah. Mereka lah yang cukup terkenal pada sejarah perang padri.

Kronologi Perang Padri

Jalannya Perang Padri atau yang juga disebut dengan perang saudara ini juga mengisahkan bagaimana kaum Adat dalam mendesak dan meminta bantuan pada Belanda di tahun 1821. Karena permintaan bantuan ini, mereka akhirnya menandatangani suatu perjanjian penyerahan Minangkabau kepada pihak Belanda padahal mereka tidak lagi memiliki sebuah kekuasaan yang riil.

Setelah perjanjian disahkan, Belanda mulai mengerahkan pasukannya dari Batavia ke Minangkabau pada tahun 1921 dipimpin letkol Raaf dengan membawa Ribuan Pasukan.

Serangan pertama dari Belanda dilakukan untuk melumpuhkan kaum Padri. Dari serangan pertama ini memang mampu mengalahkan kaum Padri hingga mereka keluar dari Pagaruyung.

Setelahnya, Belanda membuat benteng di Batusangkar untuk pertahanan. Benteng tersebut bernama Fort Van der Capellen. Berbeda halnya dengan kaum Padri yang telah mundur dari wilayahnya, mereka menyusun strategi dan juga kekuatan di Lintau.

Tahun 1822 Kapten Goffinet yang merupakan kaum adat tewas ketika memimpin pasukan Belanda. Kemudian di bulan September tahun yang sama, Belanda mendapat tekanan dan serangan dari kaum Padri dan kembali ke Batusangkar. Pimpinan dalam kaum Padri ini adalah Tuanku Nan Renceh.

Kondisi dimana awalnya Belanda membantu kaum Adat menjadi berbalik. Belanda mencampuri kaum Adat dan membuat keadaan semakin kacau dan rumit.

Dari sinilah akhirnya kaum Adat dan kaum Padri bersatu untuk berjuang melawan Belanda. Perang berlanjut hingga pada bulan Januari tepatnya tahun 1825, gencatan senjata terjadi dengan adanya perjanjian Masang.

Belanda menyadari bahwa mereka berada dalam peperangan yang hebat apalagi pada saat itu Belanda juga menghadapi perang di Eropa dan Jawa yang melawan Pangeran Diponegoro dan mengeluarkan banyak biaya. Dari sinilah Kaum Padri akhirnya melakukan pemulihan kekuatan dan merangkul kaum Adat agar bisa berjuang bersama.

Belanda Menguasai Minangkabau dalam Sejarah Perang Padri

Sejarah perang padri tak berhenti sampai disitu, konsensus bersama lahir dengan usaha menegakkan ajaran Islam dan juga Al-Qur’an di Minangkabau.

Sayangnya di tahun 1832, perang terjadi lagi dimana Kaum Padri kalah meski mendapat bantuan dari Aceh dan Belanda kembali menggencarkan serangan di tahun 1833.

Tepat pada tanggal 2 Oktober 1833 Belanda menawarkan berbagai siasat perdamaian dengan mengeluarkan Plakat Panjang yang isinya antara lain : Belanda Menghentikan Perang, Tidak mencampuri urusan dalam negeri Minangkabau, tidak menarik cukai dan menertibkan masalah kopi, lada dan garam.

Namun Bukan Belanda bila tak ada tipu daya, dengan berbagai strategi yang dimiliki, Belanda tetap menyerang dan mereka menutup pesisir barat yang saat itu menjadi garis bantuan ekonomi dan juga pesisir timur yang menjadi pintu gerbang perdagangan Minangkabau.

Hingga pada akhirnya kota Bonjol dapat direbut Belanda pada 16 Agustus 1837 dimana Tuanku Imam Bonjol yang pada awalnya sempat melarikan diri akhirnya menyerah dan diasingkan ke Priangan, Ambon kemudian di Manado.

Tuanku Imam Bonjol Sendiri akhirnya gugur dalam pengasingannya di Minahasa pada usia 92 tahun pada tahun 1864. Perang Padri setelah pengasingan Tuanku Imam Bonjol Masih berlanjut di bawah Pimpinan Tuanku Tambusai.

Artikel Pilihan : Rangkuman Agresi Militer Belanda

Akhir dari perang Padri adalah tahun 1838 tepatnya di Daludalu dengan Belanda membawa kemenangan. Padangse Bovenlanden berada dibawah kuasa Hindia Belanda dan juga Kerajaan Pagaruyung menjadi bagian dari Pax Netherlandica.

Dengan kemenangan mereka, Belanda menguasai Minangkabau serta mengandalkan para penghulu atau kepala adat untuk mengurus Minangkabau.

Kisah panjang dari perang padri ini tentu mengajarkan banyak hal. Terutama mengenai persatuan sesama masyarakat Indonesia dalam melawan penjajahan Belanda.

Bersatu padu untuk sebuah tujuan yang sama mengusir penjajah dengan kekuatan berlipat ganda. Sejarah perang padri atau juga dikenal sebagai perang saudara memberi nilai berarti tersendiri dalam kisah kemerdekaan Indonesia.

Demikian sahabat pembahasan kali ini tentang sejarah perang padri, semoga menjadi pelajaran kita sebagai generasi penerus tentang pentingnya persatuan dan kesatuan dalam menjaga Kokoh dan tegaknya kedaulatan negara,

Tinggalkan Balasan