Taktik Perang Gerilya

0
54
taktik perang gerilya

Era Globalisasi seperti sekarang banyak sekali masalah – masalah yang muncul di berbagai bidang. Terlebih di negara – negara berkembang, banyak masalah yang mudah datang dan mudah pergi pula. Masalah datang dari segala bidang yang tiada habisnya bertambah terus, baik dari bidang politik maupun sosial.

Pada umumnya, masalah yang dialami negara berkembang adalah masalah pertumbuhan penduduk yang berlebih. Pertumbuhan penduduk yang tidak terkedali yaitu angka kematian lebih sedikit dibanding angka kelahiran pertahunnya.

Akibatnya akan mengganggu dan menimbulkan masalah di segala bidang. Pengertian pertumbuhan penduduk menurut Thomas Robert Malthus, dia adalah orang yang mengemukakan pertama kali arti dari pertumbuhan penduduk yang hidup pada tahun 1776 – 1824.

Beliau berdalil bahwa jumlah peduduk cenderung untuk meningkat secara geometris (deret ukur), sedangkan kebutuhan riil dapat meningkat secara arismatik (derat hitung).

Pengertian pertumbuhan penduduk secara umum adalah perubahan populasi sewaktu – waktu dan dapat dihitung sebagai perubahan jumlah individu dalam populasi menggunakan “per waktu unit” untuk pengukuran. Sebutan pertumbuhan penduduk merujuk pada semua spesies, tapi selalu manusia yang menjadi sasaran, dan sering digunakan merujuk pada pertumbuhan penduduk di dunia saat ini.

Adapula penyebab pertumbuhan penduduk Di Asia berada pada tahap yang mengkhawatirkan, yaitu Negara di kawasan Asia mayoritasnya adalah negara berkembang, permasalahan utama yang dialami oleh negara-negara tersebut salah satunya adalah tingkat kelahiran yang setiap tahunnya meningkat dari tingkat kematian.

Negara-negara di Asia termasuk kedalam negara terpadat di dunia, contohnya saja China dan Indonesia. Indonesia menempati urutan ke-4 dalam laju pertumbuhan penduduk.

Ini adalah suatu kondisi yang cukup megkhawatirkan, dilihat dari aspek demografi dan ekologi, nilai pertumbuhan penduduk (NPP) adalah nilai kecil dimana jumlah individu dalam safisnya Pertumbuhan penduduk, kualitas sumber daya manusia (SDM) di Indonesia yang masih terbilang rendah, dan sempitnya kesempatan kerja merupakan akar permasalahan kemiskinan.

perang gerilya

Jadi aspek demografi mempunyai kaitan erat dengan masalah kemiskinan yang dihadapi di Indonesia pada saat ini. Daerah miskin sering ditinggalkan penduduknya untuk bermigrasi ke tempat lain dengan alasan mencari kerja. Tingkat kelahiran yang tinggi sudah tentu akan meningkatkan tingkat pertumbuhan penduduk.

Penyebabnya adalah berdasarkan estimasi yang diterbitkan oleh Bro Sensus Amerika Serikat, penduduk dunia mencapai 6,5 M jiwa pada tanggal 26 Februari 2006 pukul 07.16 WIB. Dari sekitar 6,5M penduduk dunia, 4,5M tinggal di Kawasan Asia. Tujuh dari sepuluh negara berpenduduk terbanyak di dunia berada di Asia (meski Rusia juga terletak Di Eropa).

Sejalan dengan proyeksi populasi, angka ini terus bertambah dengan kecepatan yang belum ada dalam sejarah. Diperkirakan seperlima dari seluruh manusia yang pernah hidup pada enam ribu tahun terakhir, hidup pada saat ini.

Pada tanggal 19 Oktober 2012 pukul 03.06 WIB, jumlah penduk di dunia akan mencapai 7M jiwa. Badan Kependudukan PBB menetapakan tanggal 12 Oktober 2012 sebagai tanggal dimana penduduk di dunia mencapai 6M jiwa, sekitar 12 tahun setelah penduduk dunia mencapai 5M jiwa, dan itupun akan bertambah dari tahun ke tahun.

Berikut adalah peningkatan negara – negara di dunia berdasarkan jumlah penduduk dan Kawasan Asia ada 6 Negara dari 10 Negara serta Indonesia Menempati urutan 4 (2005) :

  1. Republik Rakyat Tiongkok (1.306.313.812 jiwa)
  2. India (1.103.600.000 jiwa)
  3. Amerika Serikat (298.186.698 jiwa)
  4. Indonesia (241.973.879 jiwa)
  5. Brazil (186.112.794 jiwa)
  6. Pakistan (162.419.946 jiwa)
  7. Bangladesh (144.319.628 jiwa)
  8. Rusia (143.420309 jiwa)
  9. Nigeria (128.771.988 jiwa)
  10. Jepang (127.417.244 jiwa)

Pertumbuhan penduduk yang sangat signifikan merupakan salah satu sumber konflik dunia karena tidak dibarengi dengan sumber daya alam yang menjadi sumber penghidupan. Akhir – akhir ini isu konflik antara negara yang terjadi di Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah perebutan Pulau Natuna dengan Pemerintah China.

Dalam kasus Natuna yang diklaim secara sepihak oleh pemerintah China mengindikasikan bahwa kekuatan dan pertahanan nasional dalam hal kedaulatan Negara masih memiliki kekurangan dan celah yang bisa dimanfaatkan oleh Negara lain. Disisi lain pemerintah China juga terlalu percaya diri dengan pengklaiman yang dilakukannya atas wilayah Natuna.

Dimasukannya wilayah Natuna ke dalam Zona Ekonomi Eksklusifnya China memberikan masalah baru kepada Indonesia meskipun kasus ini sudah lama bergejolak. Kasus ini semakin membuat pemerintah Indonesia geram yakni dengan adanya kapal China yang berlabuh dan memasuki wilayah laut Indonesia tanpa izin.

Serta beberapa kasus pencurian ikan yang dilakukan Negara ini diatas perairan wilayah Indonesia karena Pemerintah China mengintruksikan bahwa wilayah laut Natuna merupakan wilayah perikanan tradisional China. Kasus yang berawal pada tahun 2009 ini menurut versi China, mereka memasukan wilayah Natuna kedalam peta wilayah mereka didasarkan pada sembilan titik garis/ nine dash line yang selama ini diklaim Tiongkok dan menandakan perbatasan maritimnya.

Namun dari Sembilan titik garis ini Indonesia tidak mengakuinya karena menurut Indonesia hal itu tidak memiliki dasar hukum internasional apapun. Sembilan titik imaginer itu sendiri merupakan salah satu penyebab munculnya konflik di wilayah Laut China Selatan.

            Singkatnya, Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau yang terletak di tengah Laut China Selatan menjadi sumber konflik kedaulatan Republik Indonesia.

Hal tersebut memungkinkan adanya perang konvensional antar negara yang melibatkan satuan tempur Batalyon Infanteri 126/KC karena ditinjau dari letak geografisnya yang berdekatan dengan garis pantai Timur Sumatera. Jika berbicara perang, tentu setiap satuan memiliki konsep tersendiri, sebagai satuan Infanteri sudah tentu konsepnya adalah perang gerilya.

Untuk memenangkan perang gerilya sudah pasti ada beberapa faktor yang mendukung di antaranya adalah prajurit yang bermental baik, mempunyai kemampuan komunikasi baik , kemampuan fisik yang prima, kemampuan dalam bernavigasi darat dan kemampuan dalam menembak.

Melihat penyiapan perang gerilya tersebut maka penulis mencoba ide atau gagasan tentang “konsep interoperabilitas perang gerilya dihadapkan dengan kemampuan prajurit dalam penggunaan modernisasi alutsista”.

Latar belakang penulisan adalah bagaimana kesiapan satuan dan prajurit dalam menghadapi perang gerilya, Apakah kemampuan fisik prajurit Infanteri sudah prima untuk melaksanakan gerilya? Apakah kemampuan bernavigasi darat prajurit sudah mencapai tingkatan mahir? Apakah kemampuan prajurit dalam menembak sudah mendukung? Apakah taktik perang yang dimilki unsur pimpinan masih terpelihara?.

Karena ditinjau dari sejarah, setelah Indonesia merdeka sampai dengan saat ini, para prajurit TNI tidak pernah lagi melaksanakan Operasi Militer Perang, yang dilaksanakan hanya Operasi Militer Selain Perang dalam bentuk menjaga perbatasan dan pengamanan daerah rawan. Untuk mengembalikan mental tempur prajurit yang selama ini terpendam tentunya tidak mudah perlunya kesiapan dan kematangan.

Adapun nilai guna dari tulisan ini adalah memberikan masukan serta sumbangan pemikiran kepada pihak-pihak terkait dalam membuat dan menentukan kebijakan kesiapan Batalyon Infanteri dalam konsep perang gerilya modern untuk menghadapi ancaman adanya konflik  Laut China Selatan.

Tujuannya menganalisis tentang kesiapan batalyon infanteri dalam konsep penyiapan kemampuan prajurit dalam perang gerilya untuk menghadapi ancaman adanya konflik  Laut China Selatan sehingga pejabat penentu kebijakan mampu menyikapi adanya ancaman yang serius dari negara lain yang akan mengancurkan negara kesatuan Republik Indonesia dan tentunya kemenangan berpihak pada kita sesuai dengan pesan terkandung bersiaplah perang jika ingin damai.

Perang Gerilya merupakan terjemahan dari  bahasa Spanyol : guerrilla yang secara harafiah berarti perang kecil. Strategi perang gerilya pada prinsipnya sama sekali tidak menggunakan taktik yang regular, linier dan simetris . Taktik yang digunakan dalam pertempuran gerilya “diwarnai” dengan mobilitas yang tinggi.

Jangan pakai persenjataan yang berat – berat, tidak dilakukan pertempuran yang menentukan, apalagi yang ditujukan untuk perebutan daerah, tidak ada pasukan berani mati hanya mengganggu saja. Hanya ditujukan untuk menyampaikan “pesan” dan sebagai bagian dari ‘smart power’.

Salah satu buku perang gerilya Slamet Riyadi pentingnya agresifitas, taktik regu kecil, menghormati rakyat, menghemat amunisi. MEANS menggunakan seluruh jaringan politik, ekonomi, sosial dan militer. Semua ‘means’ diorganisaikan dalam bentuk front diplomasi, politik, klandestin dan front bersenjata.

Gerilya adalah salah satu  strategi perang yang dikenal luas, karena banyak digunakan, selama perang kemerdekaan di Indonesia pada periode 1950-an. Jendral Besar A.H. Nasution yang pernah menjabat pucuk panglima Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD) menuliskan di buku “Pokok – pokok Gerilya”.

Bagi tentara perang gerilya sangatlah efektif. Mereka dapat mengelabui, menipu atau bahkan melakukan serangan kilat. Taktik ini juga sangat membantu dan manjur saat menyerang musuh dengan jumlah besar yang kehilangan arah dan tidak menguasai medan. Kadang taktik ini juga mengarah pada taktik mengepung secara tidak terlihat (invisible). Sampai sekarang taktik ini masih dipakai teroris untuk sembunyi. Jika mereka menguasai medan mereka dapat melakukan penahanan sandera, berlatih, pembunuhan, hingga menjadi mata – mata.

Perang gerilya bersifat nomaden yaitu berpindah -pindah dan menyerang secara bersembunyi tanpa diketahui oleh lawan.Tokoh besar dalam gerilya ini adalah Jendral Soedirman dari Indonesia bahkan karena siasatnya ini membuat pasukan Belanda kewalahan ketika melawan pasukan gerilya Indonesia saat itu.

Perang gerilya juga ditiru oleh Ho Chi Minh sehingga Vietnam Utara menang melawan Vietnam Selatan dan Amerika Serikat. Melihat perjalanan sejarah perang gerilya yang secara umum dimenangkan oleh yang menganutnya maka sudah tentu prajurit Infanteri Angkatan Darat saat ini diharapkan dapat memenangkan pertempuran jika konflik yang saat ini dialami negara kita bergejolak dan diharapkan setiap prajurit Infanteri memiliki  kemampuan yang dapat mendukung terselenggaranya perang gerilya.

Berkaitan dengan perang gerilya tersebut kemampuan individu yang dimilki setiap prajurit sangatlah berpengaruh diantaranya prajurit tersebut harus memiliki fisik yang prima untuk mendukung pergerakan pasukan dengan berjalan kaki yang tidak dapat di ketahui kapan harus bergerak sesuai dengan kondisi dan situasi saat itu,  mampu dan mahir dalam bernavigasi darat karena dalam perang gerilya selalu bergerak berpindah tempat dimana kita harus mampu bernavigasi darat agar dalam menentukan arah gerakan.

Selain itu perang gerilya adalah perang yg dilakukan dengan cara mendadak musuh, menembak dengan jarak dekat sehingga hal yang harus kita siapkan adalah kemampuan menembak prajurit , kemudian yang harus diperhatikan berikutnya adalah taktik berperang, dalam hal ini peran unsur pimpinan dilapangan yang memimpin pergerakan pasukan, mereka harus memiliki perkiraan yang matang dan harus mengerti kondisi musuh. Jika kemampuan tersebut dimiliki oleh setiap prajurit Infanteri,maka  dengan kata lain satuan Infanteri sudah siap menghadapi perang yang dilakukan secara bergrilya untuk mempertahankan wilayah Natuna.

Fisik prima adalah fisik yang kuat, siap pakai, dan mampu untuk melaksanakan perpindahan pasukan, perpindahan tempat dihadapkan dengan perang gerilya.

Beberapa tahun belakangan ini pimpinan Angkatan Darat menggalakan lomba peleton tangkas bagi satpur/banpur jajaran Angkatan Darat, mungkin sebagaian besar prajurit beranggapan bahwa kegiatan tersebut merupakan kegiatan yang menyulitkan dan jauh dari pelaksanaan tugas pokok.

Namun Pimpinan Angkatan Darat beranggapan bahwa dengan cara demikian para prajurit akan berlatih dengan sunguguh – sungguh karena tidak dipungkiri kemampuan fisik prajurit saat ini sangat menurun dibandingkan dengan kemampuan fisik prajurit – prajurit terdahulu, tanpa disadari Pimpinan Angkatan Darat sedang menyiapkan pasukan yang memilki fisik yang prima dan siap bertempur di segala medan yang sulit sekalipun. 

Apakah kemampuan fisik prajurit Infanteri sudah prima untuk melaksanakan grilya? Fisik prima harus kita siapkan, harus kita bina, harus kita jaga dan harus dimiliki oleh setiap prajurit hal tersebut juga sangat ditekankan oleh Bapak Kasad Jendral TNI Mulyono. Upaya yang dilakukan adalah pembinaan latihan yang sistematis. Berlatih ini sendiri bisa kita lakukan dengan cara melaksanakan lari interval training, melaksanakan lari jauh 10 km, lari ketahanan selama 1 jam, lintas Medan dan melaksanankan Han march.

Lari interval training bertujuan untuk meningkatkan speed. Lari jauh dan ketahanan ini berguna untuk menguatkan otot kaki dan menjaga agar pernafasan tetap kuat sehingga bergerak dalam waktu yang lama tidak terjadi masalah.

Han march sendiri bertujuan untuk membiasakan diri berjalan jauh dengan menggunakan beban. Semua program pembinaan fisik tersebut sangat bagus dalam penyiapan prajurit untuk memiliki fisik prima.

Apabila fisik yang prima dimiliki oleh seorang prajurit maka tidak akan ada kendala dalam pergerakan pasukan dari satu tempat ke tempat yang lain karena perpindahan tersebut harus memiliki dasar fisik yang kuat.

Navigasi darat adalah kemampuan dalam berpindah tempat dengan menentukan koordinat menggunakan peta, kompas dan GPS. Latihan bernavigasi ini sendiri kita harus belajar dengan menggunakan sistem teori dan praktek dimana kita harus mengetahui tanda – tanda peta, cara membaca peta, menentukan koordinat, menentukan arah gerakan di medan sebenarnya dan di peta.

Kompas juga harus kita pelajari, peta dan kompas berkaitan dalam menentukan arah gerakan. Oleh karena itu prajurit harus di bekali kemampuan dalam menggunakan peta dan kompas dalam mendukung pergerakan atau perpindahan tempat.

Selain itu prajurit juga harus dibekali cara menggunakan GPS karena GPS mempermudah kita dalam bergerak baik dengan memasukkan koordinat maupun memasukan sudut kompas yang kita tentukan sesuai arah gerakan kita yang sudah kita lihat di peta. Pimpinan Angkatan Darat sudah tentunya mempunyai perencanaan yang matang.

Jika dilihat dari perencanan panjang, mengapa ilmu medan dimasukkan dalam materi ton tangkas? Dari uraian di atas tentu masing – masing prajurit dapat menjawabnya. Apakah kemampuan bernavigasi darat prajurit sudah mencapai tingkatan mahir? Tentunya tidak mudah untuk mendapatkan kata mahir, perlu usaha keras yang dilakukan, diantaranya membuat jam belajar malam kepada setiap prajurit di satuan Infanteri dengan memberikan materi – materi sesuai tingkatan, memberikan inventaris GPS kepada setiap Bintara yang ada di satuan sehingga mereka terbiasa mengenal dan memahami cara penggunaannya, memasukan materi Ilmu medan pada perlombaan peleton tangkas. Dengan upaya tersebut dinilai para prajurit Infanteri akan  mendapatkan predikat mahir bernavigasi darat.

Menembak adalah melepaskan peluru dari senjata dengan cara menekan picu pada senjata dengan mengarahkan ke sasaran yang kita harapkan dengan pengertian lain menembak juga dapat diartikan memadukan antara konsentrasi dengan penyelesaian satu permasalahan.

Apakah kemampuan prajurit dalam menembak sudah mendukung? Tentunya sebagai Dansat kita yang mengetahui kemampuan menembak prajurit di satuan. Belakangan ini pimpinan Angkatan Darat merubah pola dan metode latihan menembak di seluruh jajarannya, latihan menembak saat ini dilaksanakan setiap bulannya sepanjang tahun, perubahan latihan menembak ini tentu punya alasan dan perencanaan yang matang dari Komando Atas, diharapkan dengan perubahan tersebut kualitas menembak yang dimilki setiap prajurit semakin baik. 

Seyogyanya menembak merupakan hal mutlak yang harus dimiliki oleh seorang prajurit dihadapkan dengan perang gerilya itu sendiri. Dalam perang kita harus tahu bagaimana cara membidik dengan menggunakan senjata. Oleh karena itu menembak harus kita latihkan pada seluruh prajurit dengan cara memberikan teori terlebih dahulu kepada prajurit.

Dalam perang ini menembak adalah penentuan dimana kita akan membunuh atau akan dibunuh oleh musuh kita. Banyak upaya yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas menembak prajurit diantaranya driil kering menembak dengan memberikan materi penjelasan cara menggunakan senjata dengan posisi tiarap, jongkok maupun berdiri. Setelah itu cara meremas picu, bernafas saat menembak dan cara membidik. Hal tersebut memang dianggap sepele, namun apabila dilaksanakan dan dijadikan pedoman maka akan mendapat hasil yang baik. 

Taktik Perang adalah cabang ilmu militer berurusan dengan manuver rinci untuk mencapai tujuan yang ditetapkan oleh strategi. Taktik juga merupakan rencana untuk mencapai tujuan tertentu. 

Taktik perang adalah penggunaan kekuatan bersenjata untuk menjalankan pertempuran. Apakah taktik perang yang dimilki unsur pimpinan masih terpelihara? Taktik perang sebagai ilmu dan seni tentang pelaksanaan manuver pasukan dan penggunaan alat senjata untuk memenangkan pertempuran. Strategi medan tempur, terkenal dengan istilah taktik.

Merumuskan dan melaksanakan taktik adalah sangat penting dalam sebuah pertempuran karena sebuah negara pun masih bisa kalah dalam medan pertempuran meskipun Strategi Perang yang sudah terkoordinasi Sebelum abad ke-19, banyak taktik yang terbatas pada medan perang, seperti bagaimana manuver terbaik selama pertempuran di medan terbuka. Dalam pemikiran militer saat ini, taktik adalah tingkat terendah perencanaan, hal tersebut sangatlah berdampak buruk pada pelaksanaan pertempuran, apalagi satuan Infanteri yang konsep umumnya ada berperang grilya dengan berjalan kaki.

Tentunya peran unsur pimpinan lapangan yang dapat memperkirakan taktik apa yang harus digunakan dalam meghadapi musuh apalagi saat ini perkembangan teknologi yang begitu canggih, kita dapat mengetahui keberadaan musuh hanya dengan lewat satelit. Untuk mempermahir penggunaan taktik perang gerilya tentunya perlu upaya yang dilakukan diantaranya adalah mengajukan prajurit untuk menambah ilmu pengetahuan dalam bidang teknik pertempuran baik dalam bentuk kursus, penataran dan pendidikan sehingga dapat di kembangkan disatuan sesuai dengan konsep perang di era globalisasi ini, cara lain adalah melaksanakan latihan teknis sesuai proglatsi dengan terencana, keras, sistematis dan selalu dievaluasi apabila belum sempurna perlu diadakan pengulangan. Apabila kedua upaya tersebut dilaksanakan dengan penuh perencanaan dan perkiraan yang matang maka taktik perang yang dimiliki setiap prajurit akan terpelihara dengan baik.

Selain itu pendukung keberhasilan dalam perang gerilya adalah alutsista (alat utama sistem senjata).  Bagaimana kondisi alutsita yang dimiliki satuan, apakah mendukung dalam pelaksanaan Taktik perang gerilya? Tentunya sebagai Dansat mengetahui kondisi sistem persenjataan masing – masing satuan. Di satuan Yonif 126/KC rata – rata senjata yang di miliki pembuatan tahun 2000 kebawah baik produk dalam negeri maupun luar negeri. Meskipun terbilang tua, pemeliharaan persenjataan tetap dilaksanakan secara efisien dan maksimal, bentuk pemeliharaan adalah mengajukan kerusakan – kerusakan ke Komando Atas. Suatu pembuktian nyata bahwa kondisi alutsista di satuan Yonif 126/KC kurang mendukung dalam pelaksanaan perang gerilya adalah kerusakan senjata yang banyak dialami pada saat latihan, kerusakan tersebut rata – rata terjadi di bagian – bagian senjata yang  sensitif seperti patahnya pisir, tidak berfungsinya picu karena digunakan latihan menembak dengan munisi lebih dari 30 butir, lemahnya pena pemukul karena sudah tidak tahan terhadap panas, bahkan pernah ditemukan pecahnya laras karena tidak tahan terhadap panas. Dari bukti tersebut dapat disimpulkan bahwa alusista yang ada di satuan Yonif 126/KC perlu modernisasi. Kemudian faktor pendukung lainnya adalah kemampuan prajurit dalam mengawaki senjata terutama senjata bantuan, rata – rata di temukan prajurit pemegang senjata bantuan kurang memahami penggunaan senjata tersebut baik dalam materi eksersisi maupun cara mengukur tembakan. Hal tersebut tentunya sangat mempengaruhi keprofesionalan prajurit Infanteri. Perlu adanya perhatian khusus terhadap senjata bantuan. Dari kedua faktor pendukung disarankan agar ada modernisasi alutsista dan perlunya pentaran tambahan tentang senjata bantuan dalam menyiapkan konsep satuan Infanteri dalam menghadapi perang gerilya  menanggapi ancaman dari utara (China).

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa taktik perang gerilya dapat berhasil apabila setiap prajurit memiliki fisik yang prima, kemampuan bernavigasi darat, kemampuan menembak dan taktik perang yang baik, selain itu komponen pendukung lainnya adalah alutsista (alat utama sistem senjata). Apabila kemampuan tersebut sudah dimiliki setiap prajurit Infanteri sebagai garda terdepan Negara Kesatuan Republik Indonesia kita siap berperang dengan negara manapun yang mencoba mengganggu keamanan dan stabilitas Negara Kesatuan Republik Indonesia, NKRI harga mati, bersipalah berperang jika ingin damai. Untuk menyempurnakan kemampuan prajurit dalam perang gerilya melihat perkembangan tekhnologi saat ini disarankan agar prajurit Infanteri dibekali pengetahuan tentang penyadapan jaringan komunikasi yang biasa digunakan dalam bertempur, penambahan kursus – kursus yang berkaitan dengan taktik bertempur sesuai konsep perang saat ini, modernisasi alutsista secara berjenjang dan kegiatan latihan bersama dengan tentara luar negeri dengan mengikut sertakan prajurit Batalyon Infanteri sehingga para prajurit dapat membandingkan kemampuannya dengan kemampuan tentara luar negeri.

            Demikian tulisan mengenai konsep penyiapan Batalyon Infanteri dalam menyiapkan dan mendukung  interoperabilitas perang gerilya dihadapkan dengan kemampuan prajurit dalam penggunaan modernisasi alutsista . Semoga TNI selalu berpegang teguh dalam melaksanakan tugas pokoknya sebagai Garda terdepan untuk menegakkan kedaulatan  negara, mempertahankan keutuhan  wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) berdasarkan Pancasila dan Undang Undang Dasar 1945 (UUD 1945), melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia dari ancaman, gangguan terhadap keutuhan bangsa dan Negara.

Tinggalkan Balasan