Acuk Andrianto Seorang Perwira TNI AD Lulusan Akademi Militer ( Akmil ) Tahun 2004 Corps Infanteri. Membaca dan Menulis untuk meningkatkan Kemampuan Literasi .

Fungsi Kontra Intelijen Hadapi Spionase Intelijen Asing

16 min read

Fungsi Kontra Intelijen – Hai Sahabat Blog Militer, Kali ini kita akan mengangkat Topik tentang Fungsi Intelijen dan juga Tugas Intelijen, Dari sudut pandang seorang calon Magister dari Universitas Indonesia. Yuk Kita simak dan pelajari bersama.

Baca Juga:
TUGAS INTELIJEN

 

Fungsi Kontra Intelijen Indonesia
Dalam Menghadapi Spionase Intelijen Asing

Baca Juga:

Yosa Bayu Kuswara

E-mail: waibikey209@gmail.com

Abstrak

Spionase adalah metode pengumpulan informasi yang dilakukan oleh badan intelijen baik dalam kegiatan mauupun operasi rahasia intelijen dengan taktik terbuka ataupun tertutup. Dari berbagai pendadakan strategis yang dialami oleh Indonesia, sebagian besar menunjukkan adanya keterlibatan intelijen asing. Akan tetapi, badan maupun lembaga intelijen di Indonesia, meskipun memiliki kemampuan kontra intelijen, tidak satupun yang melakukan fungsi kontra spionase secara utuh dan profesional, tidak seperti BNPT dengan kontra terorisnya ataupun BSSN dengan kontra sabotasenya. Jurnal ini mengevaluasi fungsi kontra intelijen Indonesia dalam menghadapi ancaman spionase. Jurnal ini menggunakan metode scenario building untuk melakukan evaluasi fungsi kontra intelijen yang dilakukan oleh badan dan lembaga intelijen Indonesia. Selain itu, jurnal ini juga melakukan analisis ancaman (threat analysis) untuk memperlihatkan tren ancaman spionase terhadap keamanan nasional Indonesia. Data-data primer dari wawancara dan data-data sekunder dari berbagai sumber digunakan untuk menilai urgensi pembentukan badan kontra intelijen Indonesia. Dari data-data yang terkumpul, Jurnal ini menemukan bahwa untuk melindungi kekuatan, kemampuan, kerawanan, dan niat (K3N) Indonesia dari spionase musuh, maka Indonesia harus memiliki badan kontra spionase sebagai wadah kontra intelijen dalam melindungi ketahanan nasional dari ancaman spionase intelijen asing. Analisis ancaman menunjukkan bahwa ancaman spionase asing terhadap keamanan nasional Indonesia ada dalam level menengah-tinggi sedangkan analisis dengan scenario building memperlihatkan bahwa fungsi kontra intelijen yang selama ini dilaksanakan oleh badan dan lembaga intelijen Indonesia kurang ideal.

Kata kunci:Kontra Intelijen, Ketahanan Nasional, Spionase, Scenario Building, Threat Analysis.

Evaluating the Function of Indonesia’s Counter Intelligence in Dealing with Espionage

Abstract

Espionage is an information gathering methode conducted by intelligence services both in intelligence acivities or closed/clandestine operations using open or closed tactics With its huge valuable resources, Indonesia becomes attractive for great powers intervention. Such a condition creates a threat to Indonesia national resiliency, especially threats from espionage activities. These threats should be seriously handled by the Indonesian government. Empirical cases of strategic surprises have suggested the role of foreign intelligence in Indonesia. Despite the fact that Indonesia has several intelligence agencies and some of them have conducted counter intelligence activities, Indonesia has yet had specific agency that deals with espionage activties. This Journal is aiming at evaluating the need to establish such an agency. Using scenario building method and combined with threat analysis, this journal finds that the current capability of Indonesian intelligence agencies in dealing with espionage activities is less than ideal while the threat of foreign espionage activities is high.

Keywords: Intelligence Theory, Counter Intelligence Theory, National Resilience Concept, Threat Concept, Espionage, Scenario Building analysis, Threat analysis

Baca Juga : Taktik Gerilya

Pendahuluan

Akibat perkembangan geopolitik dan geostrategis, negara-negara besar seperti Amerika Serikat, Rusia, Cina, berada dalam kondisi ketidakpastian. Setiap negara di dunia bersiap untuk kemungkinan terburuk yang bisa terjadi seperti perang nuklir, kondisi shut down/lumpuhnya sistem suatu negara, perang hacker antar-negara, dan golongan serta kejahatan internasional lainnya yang semakin memperbarui tekniknya dalam dunia kejahatan. Indonesia harus menyikapi ancaman global yang baru ini. Ketika negara-negara adidaya ini memiliki kepentingan terhadap Indonesia maka sudah dapat dipastikan bahwa Indonesia akan menjadi sumber perhatian mereka. Langkah selanjutnya sebelum melaksanakan bagi negara-negara tersebut dalam mencari data dan informasi atas nama kepentingan nasional adalah melaksanakan suatu bentuk operasi intelijen. Operasi intelijen ini diawali dengan kegiatan spionase dalam rangka mengumpulkan data-data yang diperlukan terhadap negara sasaran. Indonesia sebagai negara yang kaya dengan sumber daya alam dan posisi yang strategis tentu harus menyikapi bentuk ancaman ini dengan serius. Melindungi suatu informasi yang vital dalam perumusan kebijakan dari berbagai ancaman maka diperlukan bentuk keamanan tersendiri dan itulah peran kontra intelijen (Prunckun H. W., 2012).

Di kawasan regional, Indonesia adalah salah satu negara yang tidak memiliki suatu badan kontra intelijen yang memiliki kekhususan dalam bidang spionase sehingga meskipun terdapat beberapa badan intelijen yang melakukan fungsi kontra. Indonesia seharusnya memiliki badan kontra intelijen nasional sehingga dalam strata keamanan dan pertahanan Indonesia tidak akan mudah diinfiltrasi oleh negara-negara asing. Pembukaan Undang-Undang Republik Indonesia No.17 tahun 2011 tentang intelijen negara menyebutkan bahwa untuk terwujudnya tujuan nasional negara yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut serta melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial sebagaimana diamanatkan di dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, sehingga menjadi sebuah langkah yang penting untuk melakukan deteksi dini (early detection)dan peringatan dini (early warning)agar mampu mendukung upaya menangkal segala bentuk ancaman yang membahayakan eksistensi dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dalam persaingan dunia global, merupakan hal yang wajar bagi negara dengan sumber daya yang besar dan teknologi yang canggih untuk memantau negara-negara yang berada di kawasannya dalam rangka menjaga kepentingan nasionalnya. Deteksi dini dan peringatan dini yang dimaksud ialah usaha yang dilakukan oleh intelijen dan kontra intelijen dalam rangka mencegah masuknya intelijen asing. Deteksi dini dan peringatan dini tentu berkaitan dengan ancaman terhadap Indonesia dengan dimensi ancaman yang selalu berubah dan berkembang mengikuti teknologi dan kemajuan pengetahuan. Kesiapan Indonesia akan diuji terhadap ancaman-ancaman tersebut, utamanya badan-badan intelijen Indonesia dalam melakukan deteksi dini dan peringatan dini terhadap ancaman intelijen asing yang akan terjadi. Kemungkinan besar, ancaman ini akan terwujud setelah negara pihak lawan melakukan operasi dan kegiatan intelijen di Indonesia.

Baca Juga : Rangkuman Perang Diponegoro

Operasi dan kegiatan intelijen ini dapat dihilangkan hanya dengan usaha maksimal dari kontra intelijen Indonesia. Kondisi intelijen Indonesia saat ini secara umum masih terdapat celah kerawanan karena dalam pelaksanaan fungsi kontra intelijen pada masing-masing badan intelijen di Indonesia. Peristiwa demi peristiwa mencatat keterlibatan intelijen asing di wilayah kedaulatan NKRI memberikan suatu gambaran bahwa kontra intelijen Indonesia belum maksimal. anatomi dari kontra intelijen terdiri dari kontra intelijen dan kontra spionase (Prunckun H. W., 2012). Spionase merupakan operasi intelijen yang akan dilakukan oleh negara lawan. Dengan spionase, negara lawan dapat mengumpulkan segala bentuk informasi yang bernilai strategis sehingga negara lawan dapat menentukan taktik dan teknik intelijen selanjutnya. Pihak lawan akan mencoba melakukan spionase, sabotase, subversi dan terorisme untuk mencari keterangan tentang intelijen strategis suatu negara sebagai bahan intelijen dasar dalam melaksanakan suatu operasi dan kegiatan intelijen lainnya di Indonesia. Sejak berakhirnya Perang Dunia II sampai dengan satu dekade setelah masa reformasi, Indonesia telah beberapa kali menderita akibat campur tangan operasi intelijen asing. Beberapa peristiwa pendadakan strategis yang terjadi di Indonesia serta terindikasi kuat adanya keterlibatan intelijen asing, peneliti rangkum dalam tabel di bawah  ini.

Tabel 1. Keterlibatan intelijen asing di wilayah Indonesia

Tahun

Peristiwa

Negara Terlibat

1958

Peristiwa Allan Pope (CIA) pada tahun 1958 yang menembaki dan membunuh anggota TNI saat itu menggunakan pesawat udara di Ambon. (Sabotase)

Amerika Serikat (CIA)

1965

Dokumen rahasia yang dirilis pada tahun 2006 dan 2007 di laman resmi CIA tentang situasi Indonesia pada tahun 1965. (Spionase)

Amerika Serikat (CIA)

1982

Uni Soviet di tahun 1982 yang berhasil merekrut seorang perwira TNI-AL dan mencuri data-data kelautan Indonesia. (Spionase)

USSR/Rusia

2005

Dalam buku berjudul “Confession of an Financial Hit Man”, John Perkins seorang mantan rekruitmen CIA khusus bidang ekonomi, dimana Indonesia menjadi goal Amerika.

Amerika Serikat

2008

Dalam buku berjudul “ Membongkar Kegagalan CIA”, Tim Weiner, dalam buku ini CIA mengakui keterlibatannya pasca peristiwa pemberontakan G30S/PKI.

Amerika Serikat

2009

Pada tahun 2009 negara Australia menyadap alat komunikasi Presiden RI ke-6 beserta keluarga, hal ini dibongkar ke dunia melalui seorang pembelot NSA Amerika Edward Snowden dalam laman wikipedia.

Australia

Sumber: Olahan Peneliti.

Berdasarkan tabel di atas maka dapat disimpulkan bahwa ancaman intelijen asing itu nyata dan harus segera diantisipasi. Beberapa peristiwa di atas hanya sebagian kecil dari bukti akan keterlibatan intelijen asing terhadap ketahanan nasional Indonesia dalam kurun waktu 100 tahun terakhir. Indonesia harus mampu menekan peristiwa pendadakan strategis seperti yang sudah terjadi di masa lalu, seperti yang terjadi dalam peristiwa Bom Bali (2002) yang memakan korban yang tidak sedikit (Riyanta, 2015). Terlebih lagi, peristiwa penyadapan Presiden RI ke-6, Soesilo Bambang Yudhoyono, beserta staf dan keluarga oleh Australia dimana pihak Australia tidak menyatakan permintaan maaf secara jelas hanya menyatakan penyesalannya bahwa itu terjadi. Banyak spekulasi menyalahkan intelijen Indonesia saat itu. Akan tetapi, dengan mengerti intelijen dan kontra intelijen seharusnya dapat dimengerti bahwa dengan berbagai kelemahan yang ada di kedua fungsi tersebut di Indonesia maka peristiwa serupa bukan tidak mungkin dapat terulang.

Tulisan ini secara spesifik adalah meneliti  tentang ancaman spionase intelijen asing terhadap Ketahanan Nasional Negara Republik Indonesia serta ketiadaan badan kontra intelijen yang menangani masalah spionase. Dengan adanya beberapa fenomena, peristiwa, dan fakta yang menunjukkan bagaimana keterlibatan intelijen asing dapat menimbulkan instabilitas bahkan kondisi chaos sekalipun apabila hal ini tidak dipikirkan oleh bangsa Indonesia. Secara teori, intelijen memiliki empat fungsi besar, yaitu: espionage, observation, research and analysis, dan covert ops., sementara kontra intelijen adalah sebagai kunci utama agar keempat fungsi intelijen tersebut tidak saling berhubungan (Prunckun H. W., 2012).

Acuk Andrianto Seorang Perwira TNI AD Lulusan Akademi Militer ( Akmil ) Tahun 2004 Corps Infanteri. Membaca dan Menulis untuk meningkatkan Kemampuan Literasi .
error: Alert: Content is protected !!